PARADIGMA STUDI POLITIK LUAR NEGERI

PARADIGMA STUDI POLITIK LUAR NEGERI

 

Oleh Asep Setiawan

 

Abstrak

Paradigma dalam studi politik negeri berasal dari studi yang dilakukan ilmuwan terkemuka dalam studi politik luar negeri. Paradigma itu adalah menyangkut pendekatan pengambilan kebijakan, teori dan pra teori politik luar negeri dan isu perilaku manusia dalam politik luar negeri. Dari tiga paradigma itulah kemudian bermunculan sejumlah konsep dan teori dalam studi politik luar negeri berdasarkan misalnya soal kognitif, multidimensi dan konstuktivisme. Paradigma ini mempermudah dalam menjelaskan fenomena dalam politik luar negeri.

 

Kata Kunci: politik luar negeri, paradigma, konsep, teori, pengambilan keputusan

 

 

Pendahuluan

Sebelum membahas bagaimana studi politik luar negeri memiliki berbagai pendekatan, ada baiknya mengetahui paradigm yang sedang berkembang dengan studi politik luar negeri yang dalam berbagai kajian disebut juga foreign policy analysis. Robert Jackson dan Georg Sorensen (2013), menyebutkan bahwa ada sejumlah pendekatan dalam studi politik luar negeri mulai dari pendekatan tradisional sampai dengan pendekatan konstruktivisme.

Valerie M. Hudson (2008) menjelaskan paradigma studi politik luar negeri setidaknya ada tiga. Paradigma itu berbasiskan kepada tiga tokoh yang dianggap sebagai pionir dari studi politik luar negeri.

Gambar 1

Paradigma Studi Politik Luar Negeri

Sumber: Valerie M. Hudson (2008)

 

Karya Richard Snyder memberikan inspirasi untuk mengkaji di bawah dari analisis tingkat negara atau state. Dalam pendekatan ini Snyder menekankan studi politik luar negeri sebagai foreign policy decision-making bukan hanya hasilnya. Pendekatan ini dipandang sebagai “perilaku organisasional” dimana determinan dasar politik luar negeri adalah kompetensi aktor pengambil kebijakan, aliran komunikasi dan informasi serta motivasi berbagai aktor.

Sementara pendekatan Rosenau yang disebut pra teori mendorong para peminat studi untuk secara sistematis dan sainstifik membuat generalisasi mengenai perilaku negara. Teori umum ini diperlukan namun tingkatnya bukan teori besar tetapi teori menengah atau middle-range theory.

Menurut Valerie, Harold and Margaret Sprout memberikan kontribusi kepada pembentukan studi politik luar negeri yang mengakui pentingnya lingkungan. Apa yang disebut psycho-milieu merupakan lingkungan internasioal dan operasional atau konteks yang dipersepsikan dan diinterpretasikan oleh para pengambil keputusan. Dari tiga karya pemikir studi politik luar negeri berkembang berbagai pendekatan.

Pendekatan

Robert Jackson dan Georgg Sorensen (2013)  menjelaskan pendekatan yang bermunculan dalam studi politik luar negeri. Gambaran evolusi studi yang sekarang disebut sub bidang ilmu Hubungan Internasional adalah sebagai berikut:

Gambar 2

Pendekatan terhadap Studi Politik Luar Negeri

Sumber: Jackson (2014)

Pendekatan tradisional terhadap politik luar negeri memfokuskan kepada kebijakan eksternal pemerintahan dengan mengetahui sejarah atau setidaknya latar belakangnya, memahami kepentingan dan masalah yang mendorong adanya kebijakan dan memikirkan berbagai cara dalam menangani dan membela kepentingan dan tanggung jawabnya.

Mengenai pendekatan terhadap studi politik luar negeri Robert Jackson memberikan perspektif lain.

  1. Pendekatan tradisional  yang  melibatkan  pengetahuan  terhadap  kebijakan  eksternal  pemerintahan  dengan  melihat  sejarah  serta latar  belakang,  memahami  kepentingan  dan  perhatian  yang  mengantarkan  kebijakan predeliksi  (kegemaran)  para  pemimpin  terhadap  ideologi  serta  para  pembuat  dan pelaksana politik mempunyai pengaruh tertentu terhadap hasil politik.  tersebut,  dan  memikirkan  berbagai  cara  dalam  mempertahankan  kepentingan-kepentingan  tersebut.  Dalam  menganalisa kebijakan  menggunakan  pendekatan  ini  dibutuhkan  kemampuan  untuk  mengenali keadaan  yang  membuat  pemerintah  harus  menjalankan  politik  luar  negerinya  dan  menggunakan  penilaian  dalam  menaksir  cara  terbaik  dan  tindakan-tindakan  yang  dapat  digunakan  dalam  menjalankan  kebijakan.  Pendekatan  ini  memperjelas  perbedaan  kebijakan  domestik  dan  aktifitas kedaulatan bangsa yang didefinisikan sebagai high politics.
  2. Pendekatan komparasi,  di  mana  James  Rosenau  (1966)  mengidentifikasi  sumber-sumber  yang  relevan  dan  memungkinkan  dalam  pembuatan keputusan  luar  negeri,  yaitu:  variabel-variabel  idiosinkratik,  peran, pemerintah, masyarakat, dan sistem.
  3. Pendekatan struktur  dan  proses  birokrasi  yang  berfokus  pada  pembuatan keputusan  organisasi,  yang  dilihat  dari  perintah  dan  tuntutan  tata  cara birokrasi di mana keputusan dibuat.
  4. Pendekatan psikologi  dan  proses  kognitif.  Pendekatan  ini  melihat  aspek psikologi  dan  persepsi  dari  aktor-aktor  politik  secara  individu.  Menurut Robert  Javis,  aktor  politik  cenderung  melihat  apa  yang  mereka  inginkan bukan  apa  yang  sebenarnya  sedang  terjadi  dikarenakan  mereka  dituntun oleh  kepercayaan  yang  telah  ada  dan  berakar  dalam  diri  mereka. Pendekatan  ini  membutuhkan  perhatian  terhadap  karakteristik  pembuat keputusan dalam hal pengalaman akan isu luar negeri, gaya politik, sosial politik,  dan  pandangannya  terhadap  dunia  untuk  memahami  bagaimana pemimpin menjalan politik luar negeri.
  5. Pendekatan multidimensi,  yang  telah  berkembang  selama  2  hingga  3  dekade,  menekankan  bahwa  tidak  terdapat  satu  teori  besar  yang  dapat  mencakup keseluruhan aktifitas politik luar negeri.
  6. Pendekatan yang  fokus  terhadap  peranan  wacana  dan  idealisme,  dikarenakan  identitas  mengakar  pada  idealisme  dan  wacana  yang  menjadi  dasar  definisi  dari  kepentingan  yang  kemudian  terbentang  menjadi  kebijakan politik luar negeri.

 

Penutup

Paradigma dalam studi politik luar negeri akan memberikan bantuan dalam memahami fenomena dalam hubungan internasional. Setiap aktor negara memiliki kemampuan untuk menghasilkan keputusan apakah basisnya rasional atau irasional. Dengan memiliki perangkat pemahaman berbasiskan paradigma dalam studi politik luar negeri maka penjelasan mengenai fenoman itu dapat dilakukan lebih akurat. ***