Paradigma Hubungan Internasional

Pendahuluan

 

Paradigma Ilmu Hubungan Internasional mengalami transformasi sejalan dengan perkembangan dalam ilmu sosial dan sekaligus perkembangan dalam hubungan internasional. Pada awalnya studi Hubungan Internasional memiliki fokus kepada analisis penyebab perang dan syarat-syarat perdamaian.[1] Fokus itu muncul terkait dengan dua kali Perang Dunia pada abad ke-20. Pengalaman Perang Dunia menjadikan para ilmuwan mengkaji bagaimana agar tidak terjadi lagi perang besar dan bagaimana pula perdamaian bisa tercipta selama mungkin di dunia.

Muncul kemudian berbagai perdebatan paradigma dalam perkembangan Ilmu Hubungan Internasional. Istilah paradigma dipopulerkan dan diartikan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions.[2] Kuhn menyebut paradigma sebagai istilah yang berkaitan dengan “normal science”. Paradigma diartikan Kuhn sebagai research firmly based upon one or more particular past scientific community acknowledges for a time as supplying the foundation for its further practice.[3]

Kalau meminjam istilah Kuhn bahwa ilmu berkembang melalui dua fase penting yakni tahap revolusioner yang ditandai dengan fragmentasi teoritis. Pandangan baru muncul dan menantang cara-cara berfikir tradisional. Namun Kuhn berpendapat bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang melalui apa yang disebut “normal science” dari satu kerangka teori yang disebut paradigma.[4]

Perkembangan ilmu pengetahuan seperti dimodelkan Kuhn ini disambut oleh disiplin Hubungan Internasional. Ilmu Hubungan Internasional itu sendiri dapat didefinisikan sebagai study of relationship and interactions between countries, including the activities and policies of national governments, international organizations (IGOs), nongovernmental organizations (NGOs, and multinational corporations (MNCs).[5] Bahkan menurut Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi, studi Hubungan Internasional juga fokus kepada faktor-faktor internal sebuah negara seperti kelembagaan, birokrasi pemerintahan koalisi, kelompok-kelompok kepentingan, proses pengambilan keputusan serta ideologi dan persepsi yang dianut oleh para pemimpin.[6]

Karena bervariasinya dan kompleksnya apa yang dipelajari terdapat berbagai pandangan dalam mempelajari Ilmu Hubungan Internasional. Selain pendekatan melalui ilmu politik juga dilakukan melalui ekonomi, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, antropologi, hukum dan filsafat. Berbagai perspektif terhadap Hubungan Internasional juga muncul menjadi perdebatan antar paradigma.

Empat Paradigma HI

Setidaknya dalam perkembangan Hubungan Internasional terdapat empat perdebatan antar paradigma atau interparadigm debates. Makalah ini akan membahas perkembangan yang terjadi dalam paradigma Hubungan Internasional sejak muncul pada tahun 1930-an sampai pada tahun 1990-an. Empat paradigma ini muncul karena cara pandang yang berbeda-beda dan juga karena perkembangan induknya yakni ilmu politik dan ilmu sosial.

Ole Waever menyebutkan sejumlah buku teks Hubungan Internasional memuat tiga paradigma besar yang mendominasi disiplin ini.[7] Yang pertama adalah Realisme kemudian yang kedua adalah Pluralism, interdependensi dan World Society yang juga dekat dengan sebutan pendekatan Liberal. Sedangkan yang ketiga adalah Marxisme atau yang lebih luas disebut sebagai radikalisme, strukturalisme atau globalisme.

Kemudian pada tahun 1980-an, konstruktivisme semakin menjadi pendekatan yang signifikan dalam Hubungan Internasional. [8] Konstruktivisme ini muncul pasca Perang Dingin yang ikut meramaikan perdebatan antar paradigma.[9] Paradigma ini muncul sebagai reaksi atas paradigma sebelumnya yang tidak mampu menjelaskan beberapa fenomena penting dalam Hubungan Internasional.

Untuk mengkaji bagaimana paradigma ini berkembang dan aspek-aspek yang menjadi bahan perdebatan maka akan mulai mengulas apa yang disebut Realisme. Paradigma Realisme muncul sebagai reaksi terhadap pendekatan Idealisme. Paradigma Realis memiliki asumsi (1) pesimis terhadap karakter manusia, (2) keyakinan bahwa hubungan internasional merupakan konflik-konflik dan konflik-konflik diselesaikan melalui perang, (3) tingginya nilai-nilai keamanan nasional dan bertahannya negara, (4) skeptis akan ada kemajuan dalam politik internasional dibandingkan dengan kehidupan politik dalam negeri.[10] Pandangan ini dapat dilihat dari para pemikir Realis baik masa lalu maupun masa seakarang.

Kaum Realis menganggap bahwa pandangannya sudah terjadi sejak masa lalu. Kaum Realis mengklaim pandangan nya muncul dari Yunani, Roma, India dan Tiongkok. Sejarah Perang Peloponnesian yang ditulis Thucydides menggambarkan sikap skeptis dalam penggunaan moralitas.[11] Argumen Realis lainnya ditemukan juga dalam Arthashastra karya Kautilya di India.

Argumen Realis lainnya ditemukan juga dalam Arthashastra karya Kautilya di India yang beranggapan penting dalam mempertahankan keberadaan negara. Realis mengklaim bahwa Niccolo Machiavelli (1469–1527) merupakan tokoh intelektualnya yang mengatakan setiap tindakan yang dianggap penting untuk hidupnya negara dapat dibenarkan. [12]Ada pula nama Thomas Hobbes (1588-1679) dengan pernyataannya mengenai “karakter negara” dimana ketiadaan otoritas menyebabkan individu dapat mengejar keinginannya tanpa hambatan melalui konflik terus menerus. Kemudian muncul pulat tokoh seperti Morgenthau (1965) yang menyatakan bahwa pria dan wanita secara alamiah adalah binatang politik. Mereka dilahirkan untuk mengejar kekuasaan dan menikmati kekuasaan.[13]

Kalau Paradigma Realis menekankan kepada penggunaan kekuatan dalam mengejar kekuasaan dan perang merupakan solusi konflik, maka Paradigma Liberalis/Pluralis/Interdependence menekankan kepada aspek kerjasama di dalam Hubungan Internasional.  Dalam pandangan kaum Liberalis fokus Hubungan Internasional adalah integrasi, interdependensi, teori rejim, teori perdamaian demokratis serta cara-cara dalam global governance.[14]

Sementara paradigma Marxisme berpendapat bahwa negara bukan satu-satunya aktor dalam Hubungan Internasional. Selain negara terdapat juga actor non negara yang memiliki pengaruh dan kekuatannya melalui pertentangan kelas dalam hubungan ekonomi transnasional.[15] Marx memandang ekonomi sebagai tempat eksploitasi manusia dan ketimpangan kelas. Marxis menjadi kerangka bagi studi ekonomi politik internasional. Negara tidaklah otonomi tapi dipicu oleh kepentingan kelas penguasa dan negara kapitalis terutama didorong oleh kepentingan golongan borjuisnya. Ini berarti, pertama, pertarungan antar negara termasuk perang perlu dipandang dalam konteks ekonomi dari kompetisi antara kelas kapitalis di berbagai negara. Kedua, sebagai sistem ekonomi kapitalisme selalu berekspansi, tidak ada kata akhir dalam pencarian pasar baru dan keuntungan lebih banyak.[16] Ekspansi seperti ini membentuk imperialisme dan kolonialisme. Bahkan setelah bebas dari kolonialisme Marxisme memandang berubah bentuk menjadi globalisasi ekonomi yang dipimpin perusahan transnasional raksasa. Gambaran mengenai empat paradigma dapat dilihat dari tabel berikut:

Empat Paradigma Hubungan Internasional

Realisme Liberalisme/Pluralisme Marxisme Konstruktivisme
Tingkat analisis menurut Rosenau State-centric Multi-centric Global-centric Multi-centric
Aktor Utama Negara Aktor-aktor  sub-negara  dan non negara Ekonomi dunia kapitalis dan kelas Negara dan NGO
Citra Model bola bilyar Model jaring laba-laba Model gurita Model abstrak
Pandangan atas negara Aktor tunggal Terpecah belah menjadi unsur-unsur Mewakili kepentingan kelas Salah satu actor, tidak ada aktor dominan
Perilaku dinamis Negara adalah aktor rasional yang berupaya memaksimalkan kepentingan dirinya atau tujuan nasional dalam politik luar negeri Pembuatan kebijakan luar negeri dan proses trans-nasional melibatkan konflik, tawar menawar, dan kompromi, tidak selalu mengeluarkan hasil optimal Fokus atas pola dominan di dalam dan diantara masyarakat Negara dan NGO membentuk norma, values, identitas
Isu-isu Keamanan nasional adalah utama Banyak, setidaknya kesejahteraan Faktor-faktor ekonomi Gagasan, norma, values, struktur, identitas
Obyektivitas/Subyektivitas Kepentingan ada secara obyektif. Negarawan harus menyadarinya dan bertindak untuk itu. Dalam beberapa versi, dunia manipulasi dan intuisi menjadi kehidupan independen Persepsi dan peran sering berbeda dari realitas. Analisis akademik dapat membantu menemukan kebijakan rasional dan optimal Struktur mendalam dalam ekonomi sangat stabil dan konsisten. Aktor politik secara sistematis tersesat dalam persepsinya. Aktor Negara dan NGO akan mendorong terjadinya norma, identitas nilai
Pengulangan/Perubahan Hukum tidak berubah, hubungan internasional adalah realitas berulang Perubahan dan kemungkinan kemajuan Pola stabil dan berlanjut sampai berubah Evolusi norma, nilai, identitas
Konflik/Kerja sama Hubungan diantara negara pada dasarnya bersifat konflik/kompetitif Hubungan diantara negara berpotensi kerja sama, aktor non negara sering membangkitkan konflik namun membuat citra membingungkan Hubungan dalam dan diantara negara bersifat konflik tetapi perjuangan kelas adalah pola utama Negara dan NGO membentuk norma baru
Waktu Statis Evolusioner Revolusioner Evolusioner

Sumber: Ole Waever (1999), Paul D’Anieri (2012)

Paradigma Konstruktivis berbeda dengan Realis, Liberalis dan Marxis. Bagi Konstruktivis, perspektif Realis, Liberal dan Marxis sangat menekankan hal-hal materalist. Pandangan Materalis memandang faktor-faktor material seperti uang, wilayah dan senjata sebagai pendorong dalam hubungan internasional. Realis memandang terutama pada distribusi kekuatan militer, Liberalis melibatkan faktor militer dan ekonomi sedangkan Marxis penekanan kepada pusat struktur ekonomi dan distribusi kekuatan ekonomi.

Paradigma Konstruktivis memandang peran gagasan dalam Hubungan Internasional.Walaupun tidak menyangkal pentingnya faktor material seperti uang dan senjata, Konstruktivis berpendapat bahwa pengaruh faktor tersebut tidak ajeg. Sebaliknya pengaruh faktor ini tergantung bagaimana cara berpikir manusia terhadap faktor-faktor itu.[17]

Perdebatan antar paradigma Hubungan Internasional masih berlangsung karena merupakan bagian dari dinamika disiplin ilmu ini. Bahkan selain paradigma besar Hubungan Internasional berbagai turunan dari paradigma ini bermunculan sebagai upaya menjawab fenomena sosial di tingkat internasional. Kerangka pandangan Hubungan Internasional dalam tingkat di bawah paradigm ini misalnya dengan adanya English School, Feminisme, Green Theory dan Postcolonialism. Semuanya ini menjadi bagian perkembangan disiplin ilmu Hubungan Internasional. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Booth, Ken and Steve Smith. 1995. International Relations Theory Today. Pennsylvania: The

Pennsylvania State University Press.

Brown, Chris. 1992. International Relations: New Normative Approaches. London: Haverster

Wheatsheaf.

D’ Anieri, Paul. 2012. International Politics: Power and Purpose in Global Affairs. Boston:

Wadsworth.

Dunne, Tim, Milja Kurki and Steve Smith. 2013. International Relations Theories:

Discipline and Diversity. Oxford: Oxford University Press.

Evans, Graham and Jeffrey Newham. 1998. The Penguin Dictionary of International

Relations. London: Penguin Books.

Holsti, K.J.1992.International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey: Prentice

Hall.

Jackson, Robert and George Sorensen. 2013. Introduction to International Relations: Theories

and Approaches. Oxford: Oxford University Press.

Kuhn, Thomas S.1996. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of

Chicago Press.

Kusumohamidjoyo, Budiono. 1987. Hubungan Internasional: Kerangka Studi Analitis.

Jakarta: Binacipta.

Olson, William C. & A.J.R. Groom. 1992. International Relations Then & Now: Origins and

Trends in Interpretation. London: Routledge.

Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochamad Yani. 2014. Pengantar Ilmu Hubungan

Internasional. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Reus-Smit, Christian. 2005. Constructivism. Dalam Scott Burchill etc. 2005. “Theories of

International Relations. “ New York: Palgrave MacMillan.

Smith Steve, Ken Booth & Marysia Zalewski. 1999. International Theory: Positivism &

Beyond. Cambridge: Cambridge University Press.

Steans, Jill, Lloyd Pettiford, Thomas Diez, Imad El-Anis. 2010. An Introduction to

International Relations Theory: Perspectives and Themes. Harlow: Longman.

Viotti, Paul R. and Mark V. Kauppi.2012. International Relations Theory. Boston: Longman.

Waever, Ole. 1999.The Rise and Fall of Inter-Paradigm Debate. Dalam Steve Smith, Ken

Booth & Marysia Zalewski. “International Theory: Positivism & Beyond” Cambridge: Cambridge University Press.

 

[1] Tim Dunne, Milja Kurki and Steve Smith. 2013. International Relations Theories: Discipline and Diversity. Oxford: Oxford University Press. Hal. 1.

[2] Thomas S. Kuhn.1996. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press. Hal.

[3] Ibid. Hal. 10.

[4] Tim Dunne, Milja Kurki and Steve Smith. Op.cit Hal. 19

[5] Robert Jackson and George Sorensen. 2013. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. Oxford: Oxford University Press. Hal. 4.

[6] Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi.2012. International Relations Theory. Boston: Longman. Hal. 1.

[7] Ole Waever. The Rise and Fall of Inter-Paradigm Debate. Dalam Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski. 1999. International Theory: Positivism & Beyond. Cambridge: Cambridge University Press. Hal 149.

[8] Robert Jackson and George Sorensen. 2013. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. Oxford: Oxford University Press. Hal. 209.

[9] Christian Reus-Smit. Constructivism. Dalam Scott Burchill etc. 2005. Theories of International Relations. New York: Palgrave MacMillan. Hal. 194.

[10] Robert Jackson and George Sorensen. Op.cit. Hal. 66.

[11] Colin Elman. Realist. Dalam Martin Griffiths (ed).2007.International Relations Theory for the Twenty-First Century: An introduction. London: Routledge. Hal 11.

[12] Robert Jackson. Op. cit Hal 79.

[14] Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi.2012. International Relations Theory. Boston: Longman. Hal. 129.

[15] Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani. 2014. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: Remaja Rosda Karya.Hal. 27.

[16] Robert Jackson and George Sorensen. 2013. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. Oxford: Oxford University Press. Hal. 168.

[17] Paul D’Anieri. 2012. International Politics: Power and Purpose in Global Affairs. Boston: Wadsworth. Hal 94.

 

Related Posts

Epistemologi Hubungan Internasional

2017-07-21 07:39:37
admin

18

Home

2017-05-20 03:46:47
admin

8

Asia Pasifik: Konsep dan Definisi

2017-01-10 04:59:37
admin

8

Timur Tengah

2017-01-10 04:25:32
admin

8

Media Research Center

2016-02-01 15:57:44
admin

8

Kerangka Studi Politik Luar Negeri

2015-10-04 14:35:37
admin

8

BBC News Lab and NYT Labs

2015-09-20 10:26:12
admin

8