Antitesis Korupsi Indonesia

 
Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK sudah memenjarakan para petinggi Indonesia dengan berbagai klasifikasi. Yang jelas kelas menteri sudah beberapa mendekam dalam tahanan dan sebagian menunggu antri masuk hotel prodeo. Tentu harapan banyak pihak, para calon koruptor untuk tersadar bahwa mereka di bawah radar komisi anti raswah. Dengan demikian mereka jera sebelum berbuat banyak.

Sudah sekian tahun aksi KPK memukau publik. Satu demi satu pejabat tinggi bertekuk lutut di palu Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Palu itulah yang mengantarkan para koruptor ini masuk penjara. Dari ruang pengadilan itulah vonis dibacakan, nasib para terdakwa koruptor menjalani babak baru narapidana koruptor. Di dahi mereka tentu tidak akan lupa bahwa cap koruptor akan melekat seumur hidup bahkan terkenang hingga anak cucu.

Cukup sudah itu akan membuat jera para calon penghuni penjara koruptor berikutnya.

Nyatanya tidak ! Dan itulah persoalannya. Mengapa tidak membuat jera? Mengapa malah banyak orang takut dengan KPK tanpa alasan sehingga pengguna anggaran lebih baik tidak memakainya karena takut nanti dituntut korupsi atau suap atau apapun yang mengantarkan mereka ke sel besi.

Itulah ironinya. Pemberantasan tidak membuat pemerintah bersih dan tidak juga membuat koruptor jera. Masih ada saja yang mengantungi uang negara dengan berbagai modus. Semakin lama semakin canggih.

Dengan kata lain pemberantasan korupsi tidak menghentikan korupsi terjadi. Maka muncullah pemikiran hendaknya lembaga penegak hukum seperti KPK juga berusaha keras mencegah terjadinya korupsi dan suap.

Pencegahan itu harus sudah dipikiran bersama sehingga apapun alasannya orang takut dan segan untuk melakuka korupsi. Mental koruptor harus dibasmi dengan satu sistem yang mencegah terjadinya aliran uang negara ka kantung yang tidak berhak.

Itulah mengapa memperkuat mental aparatur juga menjadi concern lembaga anti raswah. Bagaimana caranya? Disinilah perlu banyak gagasan yang juga bisa diambil pengalaman Singapura atau Hongkong.

Salah satu yang ampuh mencegah terjadinya korupsi adalah dengan contoh para petinggi hidup sehari-hari. Jika mereka hidup bergelimang harta bahkan sampai ratusan miliar, jangan harap metode lain bisa berhasil. Seorang Lee Kuan Yew misalnya hidup dengan proporsional setelah turun tidak lagi jadi PM.

Tindakan dari para pemangku kekuasaan itulah yang jadi kunci bisa dengan cepat mencegah tikus-tikus yang menggerat kantor bendahara negara itu untuk kenikmatan sesaat. Siapa yang bisa memulai? Itulah problemnya di Indonesia. Masih kurang contoh para petinggi yang hidup secara proporsional. Almarhum Hugeng bisa jadi contoh yang jelas dimana Kepala Polisi RI hidup dengan sederhana. Dari titik ini mungkin bangsa Indonesia bisa belajar secara nyata. ***

Related Posts

Pengangguran Indonesia 7,4 juta

2015-05-11 07:29:34
admin

18

Mengerikan, Ancaman Narkoba di Indonesia

2015-04-25 16:46:50
admin

18

Politik Luar Negeri Kemanusiaan Indonesia

2015-04-18 09:19:27
admin

18

Jurnalisme televisi di Indonesia

2015-04-05 08:50:57
admin

18

Selamat datang CNNIndonesia

2014-10-20 07:08:04
admin

18

Jokowi Harapan Demokrasi Indonesia

2014-10-16 08:22:01
admin

18

Indonesia Tawarkan Alutsista ke Myanmar

2014-09-15 09:15:56
admin

18