Sorotan terhadap Great Wall of Sand di Laut Tiongkok Selatan

South China Sea WallAdalah koran Amerika The Washington Post edisi 8 April yang menyoroti Tiongkok membangun pangkalan di Kepulauan Spratly. Koran ini seolah mewakili pandangan Washington yang selalu khawatir apa yang dilakukan Tiongkok di kawasan ini. Beijing memang menganggap apa yang dilakukannya telah sesuai dengan kepentingan nasionalnya, jadi apapun yang dilakukannya diklaim sah.

Sementara itu kawasan Laut Tiongkok Selatan ini memang sudah rawan sejak tiga dasa warsa ini. Menyusul berakhirnya Perang Dingin, kawasan lalu lintas maritim dunia ini menjadi ajang konflik perbatasan antara Tiongkok, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina dan Taiwan.

Oleh karena itulah temuan Amerika ini langsung menjadi sorotan media.

Lokasi pulau baru ini disebut Fiery Cross. Beijing menamakannya Yongshu, sedangkan Filipina sebagai Kagitinan dan Vietnam menyebutnya Da Chu Thap. Pulau karang ini terletak 100 kilometer dari baratdaya Pulau Palawan, Filipina. Dari pulau milik Tiongkok lokasinya sekitar 1000 kilometer.

Panglima Armada Pasifik Laksamana Harry B Harris Jr dalam pidato 31 Maret di Canberra menjelaskan bagaimana Tiongkok mengubah pulau karang menjadi pulau yang lebih besar. Dia mengatakan, Tiongkok melakukan “reklamasi tanah yang belum pernah terjadi sebelumnya” untuk membangun pulau buatan dengan “menarik tanah ke pulau karang dan menyambungkannya dengan beton”.

Laksamana Harris seperti dikutip Washington Post kemudian mengatakan, “Tiongkok sekarang telah menciptakan pulau buatan seluas empat kilometer persegi.”

“Tiongkok sedang membuat Great Wall of sand (Tembok Besar tanah) dengan mesin pengeruk dan buldoser selama berbulan-bulan,” tegasnya.

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi pada tanggal 8 Maret pernah mengatakan, negaranya hanya “melaksanakan pembangunan yang diperlukan di pulau-pulau dan pulau karang sendiri.”

Informasi selanjutnya bahkan sudah terbangun landas pacu pesawat yang menimbulkan kekhawatiran tetangga Tiongkok. Landasan pesawat terbang dan juga pelabuhan kapal diduga sebagai salah satu langkah Beijing memperkuat posisinya di kawan rawan konflik ini.

Belakangan telah terjadi bentrok kapal perang antara Filipina dan Tiongkok. Situasi ini menimbulkan kecemasan akan masa depan kawasan samudera ini.

Di sinilah Indonesia dalam ajang pertemuan peringatan Konferensi Asia Afrika semestinya mulai mengajak Tiongkok dan tetanggnya untuk mencegah bentrokan militer. Masih ada jalan diplomasi untuk mempertahankan situasi kondusif di kawasan Asia dan mencegah saling curiga. Kecurigaan keras muncul dari Washington namun negara-negara Asia jangan sampai terseret oleh persaingan Tiongkok-Amerika Serikat karena taruhannya besar. ***

Related Posts

Hindari Konflik di Laut Tiongkok Selatan

2015-04-27 09:42:01
admin

18

Home

2017-05-20 03:46:47
admin

8

Asia Pasifik: Konsep dan Definisi

2017-01-10 04:59:37
admin

8

Timur Tengah

2017-01-10 04:25:32
admin

8

Media Research Center

2016-02-01 15:57:44
admin

8