Politik Luar Negeri Kemanusiaan Indonesia

Menlu RI RetnoDua tenaga kerja Indonesia di Saudi dalam tempo seminggu dieksekusi sementara puluhan lainnya menunggu waktunya. Data Migrant Care memerlihatkan 279 tenaga kerja Indonesia (TKi) di luar negeri terancam hukuman mati. Rinciannya, 212 orang di Malaysia, 37 di Saudi Arabia, Singapura 1 orang, Tiongkok 27 orang, Qatar 1 orang dan Iran 1 orang. Jika di Saudi saya 37 dengan berbagai kasus mulai narkoba sampai pembunuhan menunggu nasibnya betapa kebutuhan dari pemerinta Indonesia sudah saatnya diprioritaskan menangani mereka. Berurusan dengan narapidana mati adalah kewajiban pemerintah.

Jika diformulasikan dalam bentuk kebijakan maka saatnya diprioritaskan oleh Kementerian Luar Negeri apa yang disebut politik kemanusiaan. Kaitan politik luar negeri bersifat kemanusiaan ini erat dengan dengan bencana alam. Setiap negara sigap mengerahkan sumber dayanya untuk membantu atas nama kemanusiaan seperti terjadi ketika tsunami mengguncang Aceh Desember 2004. Berbagai negara langsung terjun membantu atas nama kemanusiaan dimana kementerian luar negerinya berperan sebagai tangan penghubung.

Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah saatnya tidak mengecilkan arti para tenaga kerja yang berada di luar negeri. Selama ini politik luar negeri diutamakan diplomasi antar negara serta demi kepentingan ekonomi. Sementara warga yang merantau untuk bekerja di luar negeri dibiarkan menyelesaikan urusannya bahkan jika hukum kejam menimpa mereka. Selalu dikatakan bahwa para warga ini datang tanpa pemberitahuan tapi jika ada masalah baru diurus oleh perwakilan Indonesia di luar negeri. Sikap seperti ini harus diubah.

Kemenlu Indonesia harus pro aktif mencatat bahwa kenyataan pekerja legal dan ilegal selalu ada dimana saja. Coba kita kalkulasikan saja di Malaysia diduga satu juta pekerja ilegal, satu juta lainnya resmi. Di Arab Saudi diduga dari 500 ribuan yang bekerja separuhnya ilegal dan mungkin lebih banyak lagi. Demikian juga banyak orang bekerja di Hongkong, Taiwan sampai ke Eropa dan Amerika. Sebagian sudah profesional tapi sebagian masih pekerja rumah tangga.

Dengan kondisi seperti ini, moratorium pengiriman tenaga kerja ke luar negeri khususnya ke Saudi bukan solusi permanen. Pemerintah harus menyiapkan payung operasional untuk melindungi mereka baik dari ancaman hukum setempat maupun penayalahgunaan pengerah tenaga kerja di Indonesia. Selalu persoalan di mulai di dalam negeri ketika sebagian operator pengirim tenaga kerja tidak patuh aturan. Penertiban memang sudah mulai berjalan di dalam negeri namun kondisi TKI di luar negeri harus segera ditangani secara serius.

Mengapa perlu Kemenlu melakukan operasi kemanusiaan karena keberadaan warga di luar negeri juga berdampak kepada wibawa negeri ini. TKI yang diperlakukan tanpa perlindungan di luar negeri menunjukkan bahwa pemerintah kita ini memang lemah, tidak ada perangkat kuat dan bisa dipermainkan. Filipina sudah terkenal keras dan tegas kepada pemerintah yang memperlakukan warganya semena-mena. Indonesia harus belajar dari Filipina dalam hal ini.

Politik kemanusiaan ini bertumpu pada lembaga yang sudah ada namun diperkuat dan dipriortaskan. Perlindungan warga di luar negeri termasuk dalam amanat konstitusi maka Kemenlu harus mengambil sikap serius bukan sikap adhoc saja.Jika ada kasus baru maju ke depan tapi tanpa kebijakan yang lengkap.

Tahun 2015 politik kemanusiaan ini harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata di berbagai negara sebagai salah satu ciri pemerintah bertanggung jawab terhadap warganya. ***

 

 

Related Posts

Kerangka Studi Politik Luar Negeri

2015-10-04 14:35:37
admin

18

Antitesis Korupsi Indonesia

2015-08-03 16:22:55
admin

18

Pengangguran Indonesia 7,4 juta

2015-05-11 07:29:34
admin

18

Mengerikan, Ancaman Narkoba di Indonesia

2015-04-25 16:46:50
admin

18

Jurnalisme televisi di Indonesia

2015-04-05 08:50:57
admin

18

Selamat datang CNNIndonesia

2014-10-20 07:08:04
admin

18

Jokowi, Presiden ke-7 Indonesia

2014-10-20 06:06:54
admin

18

Jokowi Harapan Demokrasi Indonesia

2014-10-16 08:22:01
admin

18