Jurnalisme Abad ke-21

Broadcast JournalismBagi para jurnalis muda, abad ke-21 menawarkan masa depan menarik bagi media massa. Dunia seolah menjadi satu karena kemajuan teknologi sehingga kebutuhan akan informasi menjadi sangat penting. Keperluan terhadap informasi tidak hanya dalam hitungan hari tetapi sudah per jam, per menit bahkan dalam situasi tertentu per detik.

Kredo jurnalisme masih terkait dengan kecepatan dan akurasi selain keberimbangan dan imparsial. Oleh sebab itulah maka percaturan media sudah pada tahap balapan dengan waktu untuk menyajikan yang tercepat dan terlengkap. Tidak hanya itu, dengan adanya berbagai platform maka sajian jurnalisme dengan kekuatan data multimedia akan menjadi andalan bagi masa depan.

Dari situasi inilah, maka persyaratan bagi jurnalis ke depan berbeda dengan yang terdahulu. Seorang jurnalis tidak hanya mampu menulis dengan jelas, lugas dan akurat tetapi juga memiliki kekuatan story telling. Bahwa dalam sajian berita bentuk penulisan piramida terbalik sangat penting namun bukan satu-satunya model yang diterima publik sekarang.

Intinya seorang jurnalis saat ini dan ke depan perlu memiliki beberapa skills sekaligus:

1. Jurnalisme dasar menyangkut penulisan berita dan feature yang mumpuni. Penulisan berita mengikuti standar yang ada saat ini dengan pola piramida terbalik dengan pola 5W1H. Namun demikian dalam penulisan berita sekarang karena berlomba dengan multiplatform journalism maka seorang jurnalis dituntut memberikan konteks terhadap berita yang ditulisnya, dia juga dituntut memaknai apa yang disampaikannya kepada publik. Berita tanpa makna hanya akan jadi serpihan informasi tidak bermanfaat.

2. Jurnalis multiplatform. Di lembaga media Barat seperti BBC, seorang jurnalis, seorang produser sudah dituntut kemampuan menyampaikan laporan di berbagai paltform. Misalnya, dia harus mampu mengikuti prinsip-prinsip pemberitaan online sehingga begitu peristiwa terjadi dia bisa langsung membuat laporannya lengkap dengan gambar. Di samping itu juga siap menyampaikan laporan audio video untuk radio dan atau televisi. Di sinilah kemampuan memnyusun naskah untuk broadcasting dituntut dari semua jurnalis. Dan lebih lengkap lagi jika mampu menulis di platform cetak baik surat kabar atau majalah. Kemampuan menulis di cetak masih diperlukan karena media cetak masih tetap hidup.

I’ve been telling students when I go to universities not to think of yourself as print or broadcast,” she said. “We are in the same boat. We all have to do videos, broadcast journalists have to do stories for websites. There’s a lot of writing in broadcast. That skill is not going away just because it’s a broadcast job. That’s indicative of where we are. No one has print deadlines anymore. Deadline is right now because of the web. Sara Gainim,

 

3. Jurnalis investigasi. Pada saat dunia informasi mengalir cepat maka laporan dan berita pun muncul sangat cepat. Di sinilah kemampuan jurnalis untuk melakukan liputan menyeluruh dan mendalam dituntut. Dia tidak hanya mampu secara instan menyajikan laporan tetapi juga diminta menyusun laporan jurnalistik yang panjang dan mendalam. Bentuk jurnalisme investigasi ini akan memberikan makna lebih luas terhadap laporan jurnalistik. Laporan mendalam merupakan perjalanan intelektual karena dia berhadapan dengan berbagai fakta dan bagaimana meramunya agar mudah dicerna publik, sekaligus mempengaruhi pengambilan keputusan. ***

Related Posts

Jurnalisme televisi di Indonesia

2015-04-05 08:50:57
admin

18

Jurnalisme Kebajikan

2013-09-18 11:54:37
admin

18

Home

2017-05-20 03:46:47
admin

8

Asia Pasifik: Konsep dan Definisi

2017-01-10 04:59:37
admin

8

Timur Tengah

2017-01-10 04:25:32
admin

8

Media Research Center

2016-02-01 15:57:44
admin

8

Kerangka Studi Politik Luar Negeri

2015-10-04 14:35:37
admin

8

BBC News Lab and NYT Labs

2015-09-20 10:26:12
admin

8