Teknik Penulisan Artikel untuk Media Massa

Teknik Penulisan Artikel untuk Media Massa

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan

Sebuah artikel yang kita tulis tidak lahir tanpa tujuan. Artikel dituangkan dalam sebuah karya tulis memiliki tujuan spesifik. Tujuan inilah yang kemudian akan menentukan bentuk artikel seperti apa yang akan dituangkan dalam karya tulis yang akan kita susun.Tujuan penulisan ini pula yang akan menentukan sejauh mana pesan yang akan kita sampaikan.

Tanpa menentukan tujuan lebih awal dengan pasti apa pesan tulisan yang akan disampaikan kepada khalayak akan sulit menentukan bobot tulisan. Misalnya, jika tulisan itu ditujukan kepada kaum profesional tertentu maka bahasa teknis bisa dimasukkan kedalam tulisan tersebut. Sebaliknya ketika artikel itu diperuntukkan publik seperti ditulis dalam media massa cetak atau online maka bentuk penulisan dilakukan dalam format yang populer. Artinya penulis menggunakan bahasa umum dan menghindari pemakaian istilah teknis.

Selain menentukan tujuan terlebih dahulu untuk apa tulisan dibuat, seorang penulis artikel harus merumuskan juga siapa yang menjadi target pembacanya. Kebiasaan untuk membayangkan siapa yang diajak berdialog, berargumentasi dan berinteraksi dalam karya tulis ini akan memudahkan kita mencari bentuk yang lebih komunikatif. Apakah pembaca kita kaum profesional, kaum akademis atau masyarakat umum ? Dengan adanya bayangan target pembaca ini maka karya tulis kita akan lebih tepat sasaran.

Dalam makalah singkat ini, penulis akan memfokuskan kepada cara-cara bagaimana agar artikel yang kita susun memiliki kekuatan yang sifatnya deskriptif, informatif dan persuasif. Untuk itu pertama akan disinggung, model informasi yang tertuang dalam artikel untuk media massa. Kedua, prinsip dasar dalam penulisan artikel untuk media massa baik cetak maupun online. Ketiga cara-cara praktis agar artikel memiliki daya tarik sehingga pesannya bisa sampai kepada target pembacanya.

Artikel Media Massa

Artikel yang termuat di media massa memiliki karakter sendiri yang berbeda dengan artikel ilmiah. Tulisan di media massa pada umumnya berumur pendek apalagi bila dimuat untuk surat kabar. Demikian juga tulisan untuk majalah mungkin berusia hanya satu minggu. Sedangkan untuk artikel di online bisa lebih pendek dari surat kabar tetapi juga bisa lebih lama dari majalah. Namun pemahaman umum berita dan artikel di online tergantung dari situs tersebut. Biasanya artikel berputar dalam jangka waktu hari atau minggu. Jika artikel disimpan lebih dari satu minggu maka pengunjung akan bosan dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi sampai bulan depannya.

1. Berumur pendek
Itulah karakter artikel di media massa. Tidak seperti buku, umurnya pendek dan topiknya juga terbatas. Cobalah kita periksa misalnya artikel di sebuah surat kabar maka biasanya bertahan bahkan setengah hari. Koran pagi jarang dibaca lagi pada sore hari demikian juga koran sore akan ditinggalkan pada pagi hari berikutnya.

2. Segmen tertentu
Media massa memiliki karakter massal yang artinya siapa saja bisa membaca. Namun setiap media massa memiliki segmen pembaca tersendiri. Klasifikasi umum bisa berdasarkan usia bisa berlatarkan pendidikan dan gender. Dengan mengetahui siapa pembaca tempat kita menempatkan artikel maka tulisan kita sudah diarahkan secara spesifik. Jika kita menulis artikel untuk situs Ditjen Pajak, maka dapat diperkirakan pembacanya adalah pegawai pajak, pembayar pajak dan pemangku kepentingan pajak seperti pengusaha atau akademisi.

Penentuan segmen pembaca ini penting karena terkait dengan cara bagaimana kita mengekpresikan tulisan bagi mereka. Jika artikel di situs Ditjen Pajak diperuntukkan para pemangku kepentingan dan pejabat serta staf maka bahasa dan pesan pun kita arahkan bagi mereka. Selain itu isinya pun disesuaikan dengan pengetahuan para pembaca. Jangan sampai terkesan kita menggurui pembaca yang notabene sudah mengetahui rincian soal-soal pajak karena kita menuliskan secara detil istilah-istilah pajak. Jadi jelas bahwa ketika kita menulis di media online pajak atau di media internal maka pesan kita diarahkan kepada mereka. Kita bisa langsung menulis perihal sesuatu yang sudah umum diketahui tanpa menjelaskan secara detil karena segmen pembaca kita memang sudah terfokus.

Dengan alasan segmen pembaca inilah maka kita akan segera mengetahui mengapa artikel di harian Kompas akan berbeda dengan harian Pikiran Rakyat. Kompas juga akan berbeda dengan mingguan Nova atau mingguan Bola. Artikel yang dimuat di Detikcom juga akan berbeda dengan artikel yang dimuat di situs Ditjen Pajak atau situs resmi kementerian lainnya. Namun demikian terdapat kesamaan diantara artikel yang dimuat berbagai media yakni pesannya memang spesifik untuk pembaca tertentu.

Prinsip dasar

Prinsip dalam penulisan artikel untuk media massa adalah aktual, perspektif baru, orisinal, fokus, singkat dan padat. Beberapa prinsip ini tentu saja tidak mutlak bisa bercampur baur dan bisa pula hanya perlu sebagian dari prinsip ini yang diterapkan.

1. Aktual
Mengapa harus aktual ? Berbeda dengan artikel di jurnal ilmiah yang merupakan hasil penelitian dan observasi ilmiah, artikel yang ditulis di media massa sesuai dengan karakternya bersifat aktual atau mungkin pula semi aktual. Aktualitas itu tidak sekadar baru tetapi mungkin pula isu lama yang diangkat lagi menjadi sebuah isu aktual. Misalnya, ‘pajak penting untuk pembangunan’ adalah isu lama. Namun dengan sentuhan baru seperti pengumuman kinerja kementerian maka bisa diangkat kembali karena ada cantolannya. Bagi penulis artikel, cantolan peristiwa itu penting untuk mengangkat isu-isu yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.

2. Perspektif baru
Perspektif baru dalam sebuah tulisan akan mengundang perhatian para pembaca. Dengan menyajikan perspektif baru ini maka pembaca akan mendapatkan informasi baru yang mereka butuhkan. Perspektif baru ini bisa menyangkut cara pandang yang berbeda dari selama ini. Misalnya, dalam pengumpulan pajak selama ini orang wajib mendatangi kantor pajak maka kita bisa menawarkan sistem pro aktif kepada wajib pajak. Perspektif baru ini kadang bermanfaat untuk menerobos kebuntuan yang sudah ada dalam sistem lama. Inilah kemudian fungsi artikel untuk menggugah pendekatan baru terhadap sebuah isu lama.

3. Orisinalitas
Penulis perlu pula menawarkan orisinalitas pemikiran yang akan menambah wawasan para pembacanya. Pandangan yang orisinal bahkan mungkin pertama kali dikemukan oleh seorang penulis akan mengundang banyak pembaca. Tanpa unsur orisinalitas dalam sebuah tulisan kadang-kadang pembaca merasa enggan meneruskan penelusuran artikel karena merasakan tidak ada hal-hal baru perlu diketahui.

4. Pembatasan
Penulis harus membatasi diri dalam membahas suatu isu agar tidak meluas karena memang biasanya halaman artikel itu terbatas. Dengan format artikel yang singkat ini, pembaca memiliki peluang untuk mencerna dengan cepat serta menyerap gagasan yang kita tulis. Yang penting pesan utama kita sampai, maka itulah indikator keberhasilan tulisan kita.

5. Singkat Padat
KISS atau Keep it Short and Simple merupakan bahasa yang digunakan dalam berita-berita jurnalistik bisa diterapkan kedalam sebuah artikel. Dengan memaparkan argumentasi kita secara singkat dan sederhana maka pembaca akan lebih mudah memahami buah pikiran kita. Singkat juga berarti hemat dengan ekonomi kata.

Sebuah tulisan singkat tidak berarti kosong isinya. Oleh sebab itulah maka prinsip lainnya yang perlu diperhatikan penulis artikel adalah kepadatan ide dan padatnya fakta serta bukti untuk menunjang argumentasinya. Dengan kata lain sebuah artikel hendaknya tetap ramping tetapi komprehensif karena sifat artikel memang tidak panjang.

Cara Penulisan

1. Pendahuluan
Penulisan sebuah artikel sebaiknya dimulai dengan beberapa gagasan dasar untuk satu topik tertentu. Gagasan dasar ini bisa berbentuk pernyataan, pertanyaan, solusi, alternatif pemikiran, komparatif atau argumentasi. Misalnya: praktek pajak di Inggris, pajak sebagai bukti kecintaan kepada tanah air, membayar pajak berarti nasionalisme tinggi.

Dari satu atau beberapa gagasan itu barulah kita tuangkan dalam kerangka tulisan. Misalnya ketika menuangkan studi komparasi praktek pajak dari Inggris maka penulis sebaiknya membagi dalam dua atau tiga sub gagasan. Contohnya dalam kasus pajak di Inggris ini sub judul atau gagasan pertama adalah volume pajak di Inggris, sub judul kedua mengenai tingkat pembayaran pajak sedangkan bagian ketiga membahas soal cara menangkal penggelapan pajak.

Kita bisa juga menuliskan beberapa paragraf sebagai pendahuluan untuk menetapkan tujuan artikel kita. Misalnya, tulisan ini merupakan observasi penulis mengenai efektivitas pajak di Inggris. Paragraf pendahuluan akan memberikan gambaran jelas mengenai apa yang akan jadi fokus perhatian dalam artikel yang kita tulis.

Paragraf awal dalam karya tulis kita bisa menjadi semacam pemancing agar pembaca masuk ke tubuh tulisan kita. Kalimat-kalimat yang menarik mulai dari sebuah kutipan tokoh atau pejabat, jargon dari kementerian, pertanyaan yang menarik atau gambaran berupa angka akan memberikan daya tarik tulisan kita agar pembaca masuk ke dalamnya.

Kalau pembukaan ini menentukan seberapa kuat pembaca masuk dan menyerap artikel yang kita tulis, maka tubuh tulisan lebih penting lagi untuk memenuhi janji kita dalam bagian pendahuluan. Bila tubuh tulisan tidak mendapatkan apa yang dijanjikan pada pendahuluan atau paragraf awal maka pembaca akan segera meninggalkan artikel kita. Oleh sebab itu penuhilah janji kita pada awal tulisan dengan menjelaskannya pada bagian utama tulisan.

2. Badan tulisan
Tadi dikatakan adanya tiga fikiran utama dalam artikel yang kita susun, maka kita akan memiliki fundasi yang kuat untuk mengemukakan jalan pemikiran kita. Tiga fundasi itulah yang akan membangun tubuh karya tulis kita lebih fokus, lebih bergizi dan lebih komprehensif meskipun hanya dalam bentuk tulisan yang pendek. Dan lebih lebih penting lagi, tulisan yang memiliki struktur yang mudah dipahami akan lebih cepat dimengerti pembacanya.

Dalam tiga bagian tadi itulah kita mengetengahkan bukti-bukti, data atau referensi untuk mendukung thesis kita tentang sesuatu hal. Bukti-bukti itu bisa berupa pernyataan akademis yang mendukung, data, angka, pengalaman negara lain, rujukan literatur, survey, kutipan pejabat atau tokoh. Dengan bukti-bukti pendukung inilah maka tulisan kita akan lebih informatif dan bisa juga sekaligus persuasif. Artinya pembaca akan lebih paham jalan pikiran kita sebagai penulis karena terdapat contoh dan bukti pendukung.

Setelah selesai menuliskan gagasan kita jangan lupa untuk mengedit ulang mulai dari penulisan kalimat, tanda-tanda baca, tata bahasa, judul, sub judul dan format pengetikan. Sebuah karya tulis yang akurat secara bahasa akan memberikan kesan profesionalitas di balik karya itu.

Penutup
Penulisan artikel harus mempertimbangkan segmen pembaca media massa. Kita tidak dapat menulis untuk semua orang. Dengan adanya segmen pembaca yang menjadi sasaran artikel maka kita akan lebih fokus membahas sebuah masalah sehingga pesan yang akan disampaikan benar-benar tepat sasaran.

Karena artikel di media massa sifatnya temporer maka karya tulis yang dimuat didalamnya perlu memiliki aktualias, fokus, singkat dan padat. Tulisan yang pendek namun memenuhi kriteria tersebut akan mempunyai daya persuasif yang kuat untuk diserap pembaca.

Struktur tulisan juga akan memberikan dampak kuat agar pesan yang kita tulis sampai kepada pembaca. Kita menulis bukan diri sendiri oleh sebab itu bayangkanlah jika Anda seorang pembaca sehingga selalu sadar akan sasaran pembaca kita. Terakhir, kiat penting penulis baru adalah senantiasa berlatih dan berkonsultasi dengan kolega dan senior kita untuk mengasah ketajaman artikel yang kita tulis. ****

Related Posts

Media Research Center

2016-02-01 15:57:44
admin

18

Dukungan Asia-Afrika untuk Palestina

2015-04-23 03:44:29
admin

18

Politik untuk rakyat

2014-09-09 07:39:32
admin

18

Peran Internet untuk Media

2006-05-14 16:55:07
admin

18

Interview di Paris untuk BBC

2015-04-14 17:00:49
admin

10

Home

2017-05-20 03:46:47
admin

8

Asia Pasifik: Konsep dan Definisi

2017-01-10 04:59:37
admin

8

Timur Tengah

2017-01-10 04:25:32
admin

8