Budaya politik pasca Pilpres

Tampaknya ada perubahan budaya politik setidaknya di level elit pasca Pemilihan Presiden 2014 yang berlangsung lancar. Perilaku politik ini muncul setelah pertarungan head to head antara dua calon presiden dan wakil presiden. Persaingan itu begitu sengit sehingga segala cara ditempuh termasuk penerbitan sebuah tabloid untuk menjatuhkan salah satu calon.

Sebulan lebih setelah pencoblosan, budaya politik di Indonesia sudah mengalami pergeseran karena pihak yang kalah terus menerus mengganggu dengan tuduhan kecurangan. Pihak capres nomor satu dengan dukungan besar merasa akan menang namun ketika KPU memutuskan bahwa capres nomor 2 yang unggul dan dinyatakan sebagai presiden terpilih.

Budaya politik yang dimaksud ini adalah tidak adanya sebuah sikap yang menunjukkan bahwa proses penyelesaian sengketa sudah berada di forum Mahkamah Konstitusi. Dan proses ini pun diganggu dengan berbagai pernyataan dan orator di depan gedung MK dengan maksud tidak lain agar memenangkan dirinya setelah dinyatakan kalah oleh KPU.

Budaya politik seperti ini yang memancing protes, kemarahan dan menghasut tanpa alasan jelas dan tanpa bukti-bukti jelas menimbulkan kekhawatiran akan adanya proses politik yang mandek. Tahun 2009 sengketa diselesaikan Mahkamah Konstitusi dan situasi politik kembali pulih. Namun budaya politik yang menuduh pihak lain curang meski 8,5 juta selisih suara sudah menunjukkan siapa yang menang.

Budaya politik kemarahan ini dikhawatirkan akan membuat kehidupan politik tidak sehat. Bukan lagi setelah Pilpres semua bersatu mendukung pemerintah terpilih karena rakyat sudah bersuara, namun akan terus mengganggunya tanpa tujuan politik jelas selain menumpahkan kemarahan. Padahal, citra elit sebagai negarawan sudah sangat terpuruk dan dibutuhkan sikap kenegarawanan elit politik saat ini.

Kalau kita meminjam istilah Gabriel Almond dalam menjelaskan politik di negara berkembang seperti patron-client atau budaya politik kaula, mungkin bisa menerjemahkan betapa berbahayanya perilaku elit yang hanya mau menang sendiri. Sikap elit ini akan diikuti sebagian masyarakat yang masih mengikuti perilaku elit sekalipun tidak sesuai dengan hukum. Demikian juga pernyataan yang memanas-manaskan situasi bisa diikuti bahkan bisa tanpa berpikir lagi.

Bahwa perubahan budaya ini tidak akan berlangsung cepat namun sikap yang muncul di sebagian elit berpotensi mengubah perilaku politik akar rumput. Oleh sebab itulah perlu sebuah proses yang positif agar elit politik yang kalah di Pilpres tidak membuat persoalan baru yang dapat mendorong ke arah negatif sikap masyarakat di Indonesia.***

 

 

 

Related Posts

Kerangka Studi Politik Luar Negeri

2015-10-04 14:35:37
admin

18

Politik Luar Negeri Kemanusiaan Indonesia

2015-04-18 09:19:27
admin

18

Masalah dalam Komunikasi Politik Jokowi

2015-04-06 16:51:08
admin

18

Politik untuk rakyat

2014-09-09 07:39:32
admin

18

Menuju sikap dewasa berpolitik

2014-05-22 04:40:00
admin

18

Jokowi dan JK sambut Pilpres 2014

2014-05-19 04:53:30
admin

18

Politik Pencapresan

2014-04-28 12:04:06
admin

18

Politik parpol ala PPP

2014-04-21 08:18:29
admin

18