Menuju sikap dewasa berpolitik

Memperhatikan perbincangan di media sosial seperti di Facebook dan Twitter sepertinya mengarah kepada diskusi yang tidak dewasa. Sebagian dari pelaku sosial media memposting link dari situs-situs berita tidak jelas. Bahkan ada yang memposting berita beberapa tahun lalu untuk menyudutkan salah satu calon presiden.

Dalam posting itu ada beberapa yang merupakan fakta dan ada pula yang fiksi atau plintiran media tertentu untuk menyudutkan salah satu capres. Bahkan di situs berita yang mainstream pun ada satu situs yang rajin menyudutkan salah satu capres. Situs berita ini semula menyokong parpol tertentu kemudian setelah pemiliknya pindah maka tulisan dan berita di situs itupun beralih pemihakanya.

Ternyata dari pengamatan beberapa hari ini sungguh sulit untuk berpolitik secara dewasa. Taruhlah bahwa yang bermain di Facebook itu rata-rata berpendidikan tinggi. Namun pendapat dan pandangannya kadang-kadang tidak mencerminkan background pendidikan. Kalimat dan penyusunan pendapatnya malah penuh dengan irasionalitas dan emosi.

Barangkali dari analisa kalimat-kalimat serta pendapat yang muncul di media sosial sedikit banyak menunjukkan bahwa cara berpolitik dan mengemukakan aspirasi masih emosional dan kadang kekanak-kanakkan. Apakah ini mencerminkan sebagian masyarakat Indonesia dalam berpolitik? Wallahu’alam.

Sebenarnya dialog dan pertukaran pandangan sah-sah saja. Namun di ruang publik seharunya pengguna media sosial bisa bermain cantik dan elegan. Tidak harus dengan bahasa kasar dan saling mengecam. Di era demokrasi ini, boleh saja mengkritik salah satu calon namun perlu menghindari fitnah.

Kalau kita amati bersama, politik praktis memang sangat cair. Jadi sangan jangan sampai saling menyakiti gara-gara mendukung salah satu capres. Parpol pendukung para capres ini juga sudah biasa bekerja sama dan juga tidak satu perahu. Jadi demikian juga anggota masyarakat yang berpendidikan tetap menempatkan dialog dan pertukaran pandangan dalam kerangka menumbuhkan budaya dialog terbuka, kritis dan jujur.
Bahwa dalam politik praktis tidak ada aksioma kejujuran seratus persen, maka dalam dialog anggota masyarakat perlu dipertahankan tradisi untuk mengemukakan pandangan yang memang jujur dan transparan. Jika anggota masyarakat sudah mulai menebar fitnah dan pandangan ekstrem, maka secara keseluruhan tidak dapat diharapkan pemerintahan mendatang dapat membangun secara lebih solid.

Related Posts

Home

2017-05-20 03:46:47
admin

8

Asia Pasifik: Konsep dan Definisi

2017-01-10 04:59:37
admin

8

Timur Tengah

2017-01-10 04:25:32
admin

8

Media Research Center

2016-02-01 15:57:44
admin

8

Kerangka Studi Politik Luar Negeri

2015-10-04 14:35:37
admin

8

BBC News Lab and NYT Labs

2015-09-20 10:26:12
admin

8

Antitesis Korupsi Indonesia

2015-08-03 16:22:55
admin

8