Epistemologi Ilmu Hubungan Internasional

 

Oleh

Asep Setiawan

 

Abstrak

Artikel ini mengkaji apa yang disebut sebagai epistemologi Hubungan Internasional. Kajian Ilmu Hubungan Internasional secara epistemologis akan melibatkan aspek Teori-teori Hubungan Internasional, metodologi dan teknik penelitian. Pembahasan mengenai epistemologi ini tidak lepas hubungannya dengan filsafat ilmu sosial. Pembahasan teori-teori tidak terlepeas dari Teori Realisme,Teori Teori International Society dan Teori Konstruktivisme. Tentang metodologi penelitian yang digunakan ada yang disebut dengan pendekatan tradisional (traditional approach) yang disebut juga kualitatif. Sedangkan ilmuwan Hubungan Internasional dalam kegiatan metodologinya biasa mengunakan metode deduktif dikenal sebagai pendekatan saintifik (scientific approach) atau pendekatan kuantitatif.

 Kata Kunci: Epistemologi, Hubungan Internasional, Metodologi, Teori Realisme, Metode Kualitatif, Metode Kuantitatif

Pendahuluan

Semua pengetahuan manusia pada dasarnya memiliki tiga landasan yakni ontologi (apa), epistemologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa) ilmu itu. Perbedaannya terletak pada wujud materialnya serta sejauh mana tiga landasan itu dilaksanakan dan dikembangkan oleh manusia.[1] Epistemologi adalah cabang filsafat ilmu yang berurusan dengan hakikat dan ruang lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawabannya atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[2]

Sedangkan menurut Imre Lakatos, seperti dikutip Mochtar Maso’ed, epistemologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang membahas persoalan “Apa yang kita ketahui?” (yang disimpan dalam bentuk teori); “Bagaimana kita tahu itu?” (yaitu pembahasan tentang metodologi); dan “Dengan cara apa kita tahu itu?” (yaitu teknik atau metode).[3] Oleh karena itu kajian Ilmu Hubungan Internasional secara epistemologis akan melibatkan aspek-aspek sbb:

  1. Teori-teori Hubungan Internasional:yaitu tentang pengetahuan apa yang telah diperoleh dalam ilmu ini dan bidang-bidang kehidupan sosial apa yang diliput oleh ilmu Hubungan Internasional ini.
  2. Metodologi: yaitu tentang prosedur bagaimana pengetahuan tentang fenomena hubungan internasional itu diperoleh.
  3. Teknik dan metode penelitian: yaitu tentang cara-cara penelitian apa yang diterapkan untuk memperoleh pengetahuan itu.

Sedangkan Michael Nicholson dan Peter Benet (1999) menyatakan kajian epistomologi dari Hubungan Internasional baik dalam kerangka teorinya maupun metodologi akan menginduk kepada perdebatan di dalam filsafat ilmu, termasuk filsafat ilmu sosial.[4] Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah perilaku manusia dapat dijelaskan seperti bagaimana ilmu-ilmu alam menjelaskan perilaku objek penelitiannya. Masalah dengan manusia adalah makhluk ini dapat menafsirkan perilakunya dan interpretasi itulah yang menjadi daya tariknya. Misalnya konferensi internasional tidak hanya melibatkan sekumpulan manusia tetapi mengapa mereka berkumpul.

Sebagai sebuah disiplin Hubungan Internasional merupakan kajian lebih dari sekedar hubungan antar bangsa-bangsa. Aktor lain seperti organisasi internasional, perusahaan multinasional, organisasi lingkungan, kelompok-kelompok teroris juga bagian dari kajian disiplin ini.[5] Selain aktor-aktor dalam Hubungan Internasional fokus studinya juga mengenai politik kekuasaan antar bangsa-bangsa, pengaruh struktur ekonomi di tingkat global, hukum internasional, norma-norma dan etika internasional.

Namun fokus awal dari Hubungan Internasional adalah studi tentang perang dan damai. Pengalaman Perang Dunia I mendorong perkembangan studi bagaimana menciptakan perdamaian dan bagaimana mencegah perang. Oleh sebab itulah dipelajari juga mengenai Sejarah Diplomasi, Hukum Internasional dan Ekonomi Internasional. Setelah Perang Dunia II dipelajari juga organisasi internasional.[6] Pada tahun 1930-an politik internasional, geografi politik dan opini public mulai banyak mendapat perhatian. Pada Perang Dunia II dan pembentukan PBB memberikan dorongan baru kepada ilmu pengetahuan ini telah menyebabkan lahirnya pemerintahan dunia. Pada tahun 1960-an dan 1970-an perkembangan studi Hubungan Internasional semakin kompleks dengan masuknya aktor international governmental organization dan international non governmental organization (NGO). Pada tahun 1980-an pola Hubungan Internasional masih bersifat state centric tetapi muncul kekuatan-kekuatan sub groups yang mengemuka. Pada tahun 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet mendorong kajian baru di ranah Hubungan Internasional.

Dari perjalanan studi Hubungan Internasional itu muncul berbagai penafsiran terhadap pola interaksi internasional dan berbagai isu di dalamnya termasuk dampak dari struktur di dalam negeri sebuah negara terhadap pola hubungan internasional. Berbagai perkembangan internasional sepanjang satu abad ini melahikan berbagai teori hubungan internasional. Teori ini menjadi salah satu cara bagaimana memahami interaksi antar bangsa di dunia. Beberapa teori akan dibahas dalam makalah ini yakni Pertama, Teori Realisme. Kedua Teori Liberalisme yang juga disebut Pluralisme. Ketiga, Teori International Society atau English School. Keempat, Teori Konstruktivisme.

Teori Hubungan Internasional

Teori Realisme berkembang paling awal karena Perang Dunia I dan Perang Dunia II memberikan karakter kuat mengenai pentingnya kekuatan internasional dalam mengendalikan Hubungan Internasional. Menurut Robert Jakson dan Georg Sorensen (2012), gagasan dasar dari realis adalah (1) pesimis terhadap karakter manusia, (2) keyakinan bahwa hubungan internasional merupakan konflik-konflik dan konflik-konflik diselesaikan melalui perang, (3) tingginya nilai-nilai keamanan nasional dan bertahannya negara, (4) skeptis akan ada kemajuan dalam politik internasional dibandingkan dengan kehidupan politik dalam negeri.[7]. Sedangkan Jill Steans (2010) menyebutkan asumsi dasar dari Realisme antara lain, negara merupakan aktor utama dalam Hubungan Internasional, kedaulatan adalah karakter utama negara, negara dimotivasi oleh dorongan mencari kekuasaan, keamanan dan kepentingan nasional, negara seperti manusia bertindak untuk kepentingan sendiri, dan kekuasaan merupakan kunci untuk memahami perilaku internasional. [8]

Perspektif Realisme ini merupakan kerangka yang dominan di dalam Hubungan Internasional. Jackson bahkan membaginya kedalam Realisme Klasik dan Realisme Neo Klasik. Yang pertama merujuk kepada sejumlah pandangan dari para pemikir lama yakni Thucydides, Nicolo Machiavelli dan Thomas Hobes. Kemudian juga Realisme Klasik ini sangat dipengaruhi oleh Hans J Morgenthau.

Rangkuman tiga pemikir realis dalam Hubungan Internasional ini digambarkan oleh Jackson sebagai berikut.[9]

Dari ketiga pandangan realis itu intinya adalah mereka sepakat bahwa kondisi manusia dalam keadaan tidak aman dan konflik yang harus dihadapi. Mereka juga paham bahwa terdapat semacam pengetahuan politik untuk menghadapi masalah keamanan dan bagaimana menghadapinya. Akhirnya mereka juga sepakat bahwa tidak ada solusi akhir dari kondisi ini. Artinya dalam Hubungan Internasional tidak ada perdamaian yang abadi karena kepentingan untuk mendapatkan kekuatan selalu terjadi diantara entitas politik seperti negara.

Morgenthau yang menganut aliran Realis mengajukan enam prinsip dari apa yang disebut realisme politik. Konsepnya antara lain politik berakar dalam sifat manusia yang permanen yakni berpusat kepada kepentingan sendiri, politik adalah wilayah aksi yang otonomi dan tidak dapat dikurangi oleh moral, kepentingan sendiri merupakan kondisi manusia, etika Hubungan Internasional  bersifat situasional, realis berpendapat bahwa negara tertentu dapat memaksakan ideologi kepada negara lain.

Teori Neorealis atau disebut pula Struktural Realis mendasarkan diri pada paham bahwa manusia tidak ada kaitan dengan negara yang ingin merebut kekuasaan. Struktur dan sistem internasionallah yang memaksa negara merebut kekuasaan. Oleh sebab ini diasumsikan jika tidak ada negara yang memiliki kekuatan besar makan akan terjadi kekacauan. Sebaliknya negara-negara besar yang mengendalikan sistem internasional akan menjaga perdamaian dunia.

Berbeda dengan Teori Realisme dalam Hubungan Internasional, Teori Liberalis sebaliknya memandang bahwa interaksi di dunia ini memiliki kecenderungan untuk bekerja sama. Teori Liberalisme fokus kepada penjelasan dalam kondisi seperti apa kerja sama internasional dapat dilaksanakan. Asumsi dari Liberalisme adalah, pertama, negara dan non negara merupakan entitas penting di dunia. Selain itu juga organisasi non pemerintah, transnasional seperti perusahaan multinasional corporation dan kelompok pembela hak asai manusia memainkan peran penting di dalam Hubungan Internasional. Kedua, pandangan Liberal melihat ekonomi dan saling ketergantungan memiliki efek mejadikan perilaku negara moderat. Ketiga, kaum Liberalis memandang agenda utama Hubungan Internasional adalah terkait isu ekonomi, sosial dan lingkungan. Berbeda dengan paham Realis bahwa agenda utama Hubungan Internasional adalah isu-isu politik dan militer. Keempat, menafsirkan fenomena Hubungan Internasional sebagai sesuatu yang “inside-out” (dari dalam keluar) yang mengkaji bagaimana faktor negara-masyarakat dan individu mempengaruhi Hubungan Internasional. Kelima, analisa utamanya adalah menemukan dalam kondisi seperti apa kerjasama internasional dapat dicapai. [10]

Teori International Society atau Masyarakat Internasional yang dikenal juga sebagai English School (Mazhab Inggris) merupakan campuran dari pemahaman Realis mengenai kekuasaan dan perimbangan kekuatan dan pemahaman Liberalis bagaimana hukum, aturan, norma dan kelembagaan berjalan secara internasional. Asumsi pertama, dunia dapat dipahami sebagai masyarakat internasional atau anarki dimana negara dan non negara berjalan. Kedua, English School konsep “order” (tatanan) dalam masyarakat anarkis memainkan peran penting secara teoritis. Tatanan tidak hanya dari kekuasaan atau perimbangan kekuasaan tetapi juga penerimaan aturan dan kelembagaan yang mengaturnya. Ketiga, English School mengakui pentingnya etika perdamaian dunia dan pemahaman akan moral. Namun diimbangi oleh pandangan pragmatis mengenai masyarakat anarkis dimana kekuasaan dan kepentingan masih penting. [11]

Sementara itu yang baru kemudian muncul Teori Konstruktivisme. Konstruktivisme memandang untuk mempersoalkan identitas dan kepentingan negara. Ini berbeda dengan Teori Realis dan Liberalis yang meyakini mengendai identitas dan kepentingan negara yang sudah melekat adanya. Konstruktivis tidak hanya tertarik kepada negara sebagai aktor tetapi juga organisasi internasional dan organisasi transnasional.  Konstruktivis juga memandang struktur internasional dalam pengertian struktur sosial dengan faktor-faktor norm, rules dan law. Struktur ini akan mempengaruhi identitas dan kepentingan agen internasional serta hasilnya seperti intervensi kemanusiaan dan tabo dalam penggunaan senjata pemusnah massal. Tekanan kepada dimensi sosial struktur ini berbeda dengan neorealis dan neoliberal yang sangat materialis. Kalangan Konstruktivis memandang bahwa dunia sebagai sesuatu yang sedang berkembang atau dibangun, bukan sesatu yang final sudah jadi.

Metodologi

Dalam Ilmu Hubungan Internasional metodologi penelitian yang bisa digunakan disebut dengan pendekatan tradisional (traditional approach) yang disebut juga kualitatif. Sedangkan ilmuwan Hubungan Internasional dalam kegiatan metodologinya biasa mengunakan metode deduktif dikenal sebagai pendekatan saintifik (scientific approach) atau pendekatan kuantitatif.[12] Pendekatan tradisional yang disebut juga dengan metode induktif maka para ilmuwan penganut pendekatan ini lebih menyukai kegiatan pengumpulan fakta langsung ke lapangan. Mereka tidak berpijak kepada teori-teori atau model terlebih dahulu dalam kegiaan penelitian. Umar Suryadi menyebut kaum tradisional mengarahkan kegiatannya dalam pembuatan generalisasi yang bersifat deskriptif dan mendasarkan analisanya dari sumber –sumber sejarah, filsafat, etika, hokum dan ingatan para pelaku Hubungan Internasional. Para ilmuwan harus memberikan makna dan interpretasi fakta-fakta itu karena fakta Hubungan Internasional tidak selalu transparan.

Penganut metode saintifik dalam Ilmu Hubungan Internasional dalam kegiatan keilmuannya mengandalkan pengujian-pengujian komprehensif dan hipotesa-hipotesa deduktif. Menurut penganut metode saintifik teori Hubungan Internasional yang ada harus diperkuat dengan pengujian dan observasi secara terus menerus. Para penstudi Hubungan Internasional tidak memberikan pemaknaan terhadap fakta karena dikhawatirkan menjurus kepada subyektivitas. Agar fakta yang dikumpulkan dalam proses pengujian teori itu bersifat obyektif maka, perlu ditentukan model dan parameternya. Untuk sampai kepada kesimpulan maka penstudi Hubungan Internasional menggunakan variabel dan indikator yang diturunkan dari konsep-konsep yang telah ditentukan.

Metodologi Hubungan Internasional juga terpengaruh oleh perkembangan dalam ilmu sosial. Muncul pandangan dua kubu yang kuat yakni positivis dan postpositivis. Kaum positivis berpendepat bahwa realitas obyektif berada di luar sana sedangkan postpositivis berpendapat realistas adalah ciptaan subyektif manusia yang dihasilkan melalui konstruk berdasarkan konsep, bahasa, pemikiran dan ideologi. Di sini kaum positivis Hubungan Internasional berusaha untuk “menjelaskan” dunia secara ilmiah yang bertugas membangu Ilmu Hubungan Internasional pada landasan proposisi empiris dan teruji. Sedangkan postpostivis Hubungan Internasional berusaha “memahami” peristiwa yang terjadi di dunia. Kaum ilmuwan postpositivis ini selain memahami juga menafsirkan peristiwa yang menjadi bahan studi.[13]

Metodologi postpositivism berkembang sebagai reaksi atas metodologi positivis Hubungan Internasional yang dikembangkan oleh Kenneth Waltz yang dikenal antara lain dengan game theory. Kritik terhadap positivisme Hubungan Internasional antara lain gagal memprediksi berakhirnya Perang Dingin akhir 1980-an. Kemudian berkembanglah aliran postpostivisme Hubungan Internasional yang menolak pengetauan obyektif positivism. Berbagai teori dari postpostivisme lahir antara lain teori kritis, konstruktivis, posmodernis dan feminis.

Dalam pekembangan lainnya metodologi Hubungan Internasional terlepas dari perdebatan positivis dan postpositivis mundul metodologi alternatif seperti metodologi Hubungan Internasional Islam, metodologi Hubungan Internasional Tiongkok. Selain itu Mazhab Inggris Hubungan Internasional juga telah terbuka terhadap pendekatan non-Barat dan keberagaman teori dan metodologi Hubungan Internasional. ***

 

  DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Bakhtiar, Amsal M. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press.

Booth, Ken and Steve Smith. 1995. International Relations Theory Today.

Pennsylvania: The Pennsylvania State University Press.

Brown, Chris. 1992. International Relations: New Normative Approaches.London: Haverster Wheatsheaf.

D’ Anieri, Paul. 2012. International Politics: Power and Purpose in Global Affairs. Boston: Wadsworth.

Dunne, Tim, Milja Kurki and Steve Smith. 2013. International Relations Theories: Discipline and Diversity. Oxford: Oxford University Press.

Evans, Graham and Jeffrey Newham. 1998. The Penguin Dictionary of International Relations. London: Penguin Books.

Garna, Judistira K. 2015. Filsafat Ilmu. Bandung: Primako Akademika.

Goodin. Robert E.and Hans-Dieter Klingemann (eds).1998. A New Handbook of Political Science. Oxford: Oxford University Press.

Holsti, K.J.1992.International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey: Prentice Hall.

Jackson, Robert and George Sorensen. 2013. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. Oxford: Oxford University Press.

Klotz, Audie and Deepa Prakash (eds). 2008. Qualitative Methods in International Relations A Pluralist Guide. New York: Palgrave MacMillan.

Kusumohamidjoyo, Budiono. 1987. Hubungan Internasional: Kerangka Studi Analitis. Jakarta: Binacipta.

Mas’oed, Mochtar. 1994.Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES.

Olson, William C. & A.J.R. Groom. 1992. International Relations Then & Now: Origins and Trends in Interpretation. London: Routledge.

Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochamad Yani. 2014. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Reus-Smit, Christian. 2005. Constructivism. Dalam Scott Burchill etc. 2005. “Theories of International Relations. “ New York: Palgrave MacMillan.

Smith Steve, Ken Booth & Marysia Zalewski. 1999. International Theory: Positivism & Beyond. Cambridge: Cambridge University Press.

Starr, Harvey (ed). 2006 Approach, Levels and Methods of Analysis in International Politics. New York: Palgrave MacMillan.

Steans, Jill, Lloyd Pettiford, Thomas Diez, Imad El-Anis. 2010. An Introduction to International Relations Theory: Perspectives and Themes. Harlow: Longman.

Viotti, Paul R. and Mark V. Kauppi.2012. International Relations Theory. Boston:Longman.

Waever, Ole. 1999.The Rise and Fall of Inter-Paradigm Debate. Dalam Steve

Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski. “International Theory: Positivism & Beyond” Cambridge: Cambridge University Press.

Wendt, Jack S.Levy, Richard Little. 2014. Metodologi Ilmu Hubungan Internasional. Malang: Intrans.

[1] Judistira K. Garna. 2015. Filsafat Ilmu. Bandung: Primako Akademika. Hal. 38.

[2] Amsal Bakhtiar M. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press.Hal. 148.

[3] Mohtar Mas’oed. 1994. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi.Jakarta:LP3ES. Hal. 2-3

[4] Michael Nicholson and Peter Bennett. The Epistemology of International Relations. Dalam A.J.R. Groom & Margot Light. 1999. Contemporary International Relations: A Guide to Theory. London: Pinter.

[5] Paul R. Viotti and Mark V Kauppi. 2012. International Relations Theory. Boston: Longman. Hal. 1.

[6] Anak Agung Banyu Perwira, Yanyan Mochamad Yani. 2014. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 2-3.

[7] Robert Jackson and George Sorensen. Op.cit. Hal. 66.

[8] Jill Steans, Lloyd Pettiford, Thomas Diez, Imad El-Anis. 2010. An Introduction to International Relations Theory. Harlow: Longman. Hal. 57

[9] Robert Jackson. Op.Cit. Hal. 72.

[10] Paul R. Viotti and Mark V Kauppi. 2012. International Relations Theory. Boston: Longman. Hal. 129-130.

[11] Paul R. Viotti and Mark V Kauppi. 2012. International Relations Theory. Boston: Longman Hal. 239-240.

[12] Umar Suryadi Bakry. Metodologi Ilmu Hubungan Internasional: Tradisional dan Saintifik. Dalam Alxander Wendt, Jack S.Levy, Richard Little. 2014. Metodologi Ilmu Hubungan Internasional. Malang: Intrans. Hal. 22-23.

[13] Asrudin. Metodologi Ilmu Hubungan Internasional: Positivisme dan Pospositivisme. Dalam Alxander Wendt, Jack S.Levy, Richard Little. 2014. Metodologi Ilmu Hubungan Internasional. Malang: Intrans. Hal. 29-30.

Paper PDF

EPISTOMOLOGI HUBUNGAN INTERNASIONAL

Jelang Penetapan Presiden

Bulan Agustus tidak hanya bersejarah bagi bangsa Indonesia karena terdapat tanggal keramat 17 Agustus. Namun lebih dari itu tahun 2018 akan disertai momentum bersejarah lainnya yakni penetapan calon presiden dan wakil presiden oleh Komisi Pemilihan Umum untuk Pilpres 17 April 2019.

Apa yang menjadi menarik dari hari itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah adanya tokoh yang siap bertarung dalam pesta akbar demokrasi Indonesia tahun 2019. Pasangan inilah yang akan menentukan Indonesia dalam lima tahun ke depan. Ritual pilpres langsung akan menjadi yang keempat kalinya pasca reformasi sehingga keberlangsungan pilpres ini juga menentukan masa depan Indonesia.

Aspek menari lainnya siapa calon yang dideklarasikan oleh parpol Indonesia untuk kontestasi pemilihan presiden nanti? Sudah mafhum bahwa ada dua calon kuat yang terpantau radar survei yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Jika ini terjadi maka pengamat menyebutnya rematch dari pilpres 2014.

Yang belum terjawab adalah siapa pendamping keduanya jika itu kemudian dijadikan calon presiden. Kedudukan wapres adalah strategis karena diasumsikan mereka akan berkompetisi padathun 2004. Jadi jika pendamping presiden ini masih berusia muda ada kemungkinan mampu untuk bertarung untuk pemilihan berikutnya. Itulah yang kemudian jadi perbincangan. Siapa orangnya? Apa jabatannya? Apa latar belakangnya? Dan dari suku mana juga?

Bulan Agustus semua pertanyaan itu akan terjawab karena KPU siap menetapkan dua pasang atau lebih tergantung dari koalisi yang dibentuk. Dan jika sudah ada calon untuk berkontestasi maka tinggal bagaimana budaya demokrasi ini dirawat dan diperkuat sehingga pilpres tidak menjadi anarkis. ***

International Relations Theory for the Twenty-First Century

 

Salah satu buku yang menarik untuk dibaca bagi penstudi Hubungan Internasional. Teori merupakan landasan untuk memahami penomena hubungan internasional yang tidak lain merupakan interaksi antar bangsa di dalam dunia modern. Interaksi antar bangsa itu sendiri merupakan fenomena yang merupakan refleksi dari kepercayaan dan budaya individual yang berbeda-beda. Oleh sebab itulah kemudian bermunculkan perspektif dalam melihat interaksi antar bangsa ini.

Martin Griffiths mengumpulkan sedikitnya sembilan perspektif teori Ilmu Hubungan Internasional yang pantas diketahui para penstudi. Bab pertama mengulas bagaimana fenomena internasional ini dipandang dari berbagai kerang fikir yang berbeda. Dari sudut pandang berbeda itulah lahir berbagai teori besar yang mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dunia. Karena sifat ilmu pengetahuan itu berkembang, maka berbagai teori itu merupakan refleksi perkembangan dari ilmu HI itu sendiri.

Griffiths menempatkan Realisme sebagai titik awal dalam kajian teori HI ini. Realisme menurut Colin Elman State behavior is driven by leaders’ flawed human nature or by the preemptive unpleasantness mandated by an anarchic international system. Selfish human appetites for power, or the need to accumulate the wherewithal to be secure in a self-help world, explain the seemingly endless succession of wars and conquest. Perspektif realisme dibagi dua besar yakni classical realism and neorealism.

Kemudian dilanjutkan dengan Liberal internationalism atau Internasionalisme Liberal yang berakar dari cara pandang terhadap manusia yang menekankan kepada kerjasama sama. Menurut John MacMillan, Underlying liberal internationalism – the projection of liberal thought and political principles
to the international realm – is the assumption that one can apply reason to extend the possibilities for individual and collective self-rule, or freedom

Teori besar ketiga disebut sebagai Marxisme yang memandang bahwa dunia adalah pertarungan antara kapitalisme yang mengeksploitasi manusia dengan perlawanan kelas. Menurut Mark Rupertteori ini berbasiskan kepada asumsi Historical materialism suggests that states and systems of interstate and transnational power relations are embedded in and
(re-)produced through systems of relations that encompass (among other things) the social organization of production. The latter is itself structured according to relations of class (and, many contemporary Marxists acknowledge,

Selanjutnya Griffiths memuat Critical theory yang biasanya disimpan oleh pakar lain di bagian paling belakang. Intinya teori ini menggugat semua kemapanan dalam bidang ilmu dan meyakini bahwa cara pandang terhadap teori itu dipengaruhi oleh politik. Dalam bab ini Andrew Linklater menjelaskan bahwa Marx and Engels argued that the struggle between the bourgeoisie (the class that owns the means of production) and the proletariat (the class that has to sell its labor-power in order to survive) is the central dynamic of capitalist societies. They believed that class conflict would destroy capitalism and lead to a socialist system in which the forces of production would be used to benefit the whole of society rather than to maximize profit for the bourgeoisie. They also had a vision of global political progress in which the whole of humanity would come to be freely associated in a socialist world order.

Konstruktivisme yang sedang menjadi trend sekarang ini ketika tulisan ini dibuat disimpan selanjutnya sebagai bahan kajian menjelaskan teori-teori HI. Menurut Andrew Bradley Phillips (Hal 60), Constructivists are defined by their emphasis on the socially constructed character of actors’ interests and identities, and by their concomitant faith in the susceptibility to change of even the most seemingly immutable practices and institutions in world politics.

The English School yang sesuai dengan namanya berasal dari Inggris. Dalam Mazhab Inggris yang ditulis Alex J. Bellamy ini dikatakan bahwa inti dari konsepk mazhab ini adalah international system’, ‘international society’ and ‘world society’

Nama teori Poststrucutalism mungkin belum banyak yang menyinggung namun Jenny Edkins menjelaskan (Hal 88)Poststructuralism is probably best described as a worldview (or even an antiworldview). Scholars working within this worldview are skeptical of the possibility of overarching theoretical explanations for things that happen in the world. They prefer not to look for grand theories but rather to examine in detail how the world comes to be seen and thought of in particular ways at specific historical junctures and to study how particular social practices – things people do – work in terms of the relations of power and the ways of thinking that such practices produce or support.

Cynthia Enloe yang mengulas mengenai Fenimisme ini menjelaskan bahwa Feminism puts women – their experiences, their ideas, their actions, thoughts about them, efforts to convince and manipulate them – on center stage, while feminism also makes ‘men-as-men’ visible and masculinity problematic (Hal 99).

Rita Abrahamsen menjelaskan bahwa perspektif Postcolonialism atau Pasca Kolonialisme sebagai Postcolonial approaches often proceed precisely from a recognition of this Western centric character of mainstream IR, arguing that the discipline’s interpretations of inter national affairs are profoundly grounded in Western experiences and discursive practices. Dengan situasi itu maka lahirnya pandangan yang mendasarkan kepada perspektif non Barat.

Buku ini memberikan beberapa pemahaman mengenai teori-teori besar dalam Hubungan Internasional. Meskipun merupakan kumpulan tulisan namun kekuatan buku ini adalah ditulis oleh mereka yang mengenal teori-teori tersebut. Bahkan seperti Andrew Linklater adalah salah satu intelektual yang mendukung salah satu perspektif sehingga penjelasannya komprehensif mencerminkan cara pandang Critical theory. ***

People-Oriented Indonesia’s Foreign Policy in Support of Protecting Citizens

Asep Setiawan & Endang Sulastri
University of Muhammadiyah Jakarta, Indonesia
asep.setiawan@umj.ac.id; endangsulastri_es@yahoo.com

 

                                                                Abstract

Indonesia‟s foreign policy based on national interest is confirmed in the opening of 1945 Constitution. In Joko Widodo‟s government focus on protection of citizen becomes priority. In addition the government also focuses on maintaining Indonesia‟s sovereignty and intensifying economic diplomacy.The Foreign Ministry translates of what concept of people-oriented foreign policy becomes pro people diplomacy and down to earth diplomacy. What is the meaning of this concept and what are implications of the policy are investigated in this research. In order to understand the policy this research looks at some cases of migrant worker particularly in Malaysia. The research uses qualitative approach with descriptive analytic in nature. Data collections for the research are interview, observation, documentation studies and focus group discussion. Source of data was collected from Indonesian Foreign Policy Ministry, Indonesia‟s‟ diplomatic office in Kuala Lumpur and Johor, Malaysia. Data analysis for the research is also used qualitative approach. Research found that Foreign Ministry set up strategy to achieve people oriented foreign policy focus with concept of people‟s diplomacy. Protection citizen set in priority with enlargement of organization and fund increased. It shows there is sense of urgency in application to protect Indonesia’s overseas particularly migrant worker. Benefit of the policy can be found from many cases in Kuala Lumpur and Johor where diplomats in charge of helping the worker actively find solution. However due the giant scale of the cases protecting people policy is not easy task for the government.

Keywords: Foreign Policy, Indonesia, Oriented People, Pro People, Diplomacy, Migrant Worker, Malaysia, Johor.

Source: https://jurnal.umj.ac.id/index.php/icss/article/view/2307