Jurnalistik Praktis, Segera Terbit

 

Jika Anda memutuskan memasuki dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil langkah itu. Jangan menunggu sampai habis umur kita memikirkannya. Putuskan sesegera mungkin ! Dan bertindaklah ! Jika Anda ragu, bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat sekat, wartawan di kota Anda atau pakar komunikasi. Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah segera ! Tuliskan keputusan menentukan itu diatas sehelai kertas, di dalam komputer atau bahkan di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda berkarir di bidang jurnalistik. Jika Anda tidak berusaha menuliskan secara eksplisit target Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong. Menjadi wartawan merupakan sebuah pilihan hidup. Namun dibalik itu terbentang kesempatan untuk bertemu berbagai anggota masyarakat mulai dari seorang pemulung sampai seorang presiden. Profesi wartawan bisa membawa Anda juga berkeliling Indonesia. Dan yang tentu banyak diimpikan, profesi ini bisa mengajak Anda berkeliling dunia ! Buku ini menjelaskan salah satu motif Anda untuk menjadi seorang jurnalis handal, apa saja syaratnya dan kemampuan apa yang dikehendaki. Dalam buku ini Anda akan mengetahui peristiwa seperti apa yang disebut berita dan apa pula yang disebut kejadian bernilai berita. Lalu bagaimana wawancara yang dilakukan seorang wartawan dan bagaimana pula liputan di lapangan yang akan dilakukan seorang jurnalis. Lebih dari itu buku ini menjelaskan tips-tips praktis ketika Anda sudah terjun di dunia jurnalistik. Tips ini bisa juga memotivasi mereka yang mau terjun secara total di media massa.

Posted in Archive, Jurnalisme, Jurnalistik, Jurnalistik Radio | Leave a comment

Apa Jurnalisme itu?

Produser yang handal merupakan jurnalis berkualitas tinggi. Mereka berpikir seperti seorang wartawan. Mereka memahami bagaimana mengikuti berita harian yang merupakan bagian dari perannya sebagai produser dan sebagai wartawan. Jika kita baru dalam dunia kewartawanan masih ada beberapa langkah menuju ke arah sana.

Untuk menjadi produser yang handal kita harus memahami apa yang disebut jurnalisme. Lalu apa yang disebut jurnalisme itu sendiri? Kita tahu bahwa audiens ingin menyaksikan program berita pertama-tama untuk mengetahui berita. Mereka menonton dengan sejumlah alasan seperti melihat ramalan cuaca namun terutama mereka ingin mengetahui peristiwa hari ini. Oleh karena itu sebagai seorang produser perlu mengetahui definisi yang jelas mengenai berita dan jurnalisme.

Banyak pengertian soal jurnalisme ini. Jurnalisme dimulai dengan pencarian fakta untuk dilaporkan. Sebagai seorang produser berita kita harus mampu merangkai fakta dan menyusun laporan.

Namun demikian jurnalisme tidak hanya sekedar mengumpulkan informasi, jurnalisme juga menyangkut penulisan naskah dan editing. Oleh sebab itu definisi sederhana dari jurnalisme adalah “melaporkan, menulis dan mengedit berita untuk diterbitkan atau disiarkan”.

Namun demikian seorang jurnalis yang hebat tidak hanya sekedar mengumpulkan fakta-fakta dan menyiarkannya. Sebagai produser kita harus menceritakan kepada pemirsa televisi mengapa satu berita ini penting dan bagaimana mempengaruhi kehidupan mereka. Karena kita seorang jurnalis maka kita harus meletakkan konteks, perspektif dan latar belakang dalam menyampaikan laporan, menulis naskah dan melakukan editing.

Mengembangkan diri sebagai jurnalis

Kita memerlukan pengembangan diri untuk menjadi seorang jurnalis dengan sejumlah karakter sbb:

1. News junkie (suka kepada berita)
Pertama-tama seorang produser yang handal haruslah seseorang yang menyukai berita. Mereka merasa lapar dan bersemangat untuk mengikuti berita. Berita adalah aliran darahnya. Newsroom yang terbaik adalah dipenuhi dengan news junkie ini. Ketika terjadi breaking news mereka ingin menjadi yang pertama memberitakannya. Mereka juga mengamati stasiun televisi lain cara memberitakan breaking news. Mereka ingin tahu gambar yang terbagus dan informasi yang paling akurat. Mereka merupakan orang-orang yang berdaya saing tinggi.

2. General knowledge (Pengetahuan umum)
Sikap lainnya yang dimiliki jurnalis dan produser handal adalah mereka memiliki pengetahuan umum dan informasi tentang dunia serta bagaimana bergerak. Bagaimana kita tahu sesuatu informasi ini penting? Dimana akan ditempatkan dalam rundown? Apakah kita memiliki latar belakangnya untuk disampaikan kepada pemirsa? Inilah alasan mengapa kita harus memiliki pengetahuan sebanyak mungkin.

3. Knowledge challenge
Jika kita tidak memiliki pengetahuan dasar maka kita akan menghadapi kesalakan yang serius dalam menentukan berita mana yang penting. Keputusan memilih berita yang buruk dan kelalaian akan menyebabkan lunturnya kepercayaan newsroom dan manajer kepada kita. Lebih buruk lagi jika kita membiarkan berita yang salah mengudara maka kredibilitas stasiun televisi menjadi taruhannya. Jika pemirsa tidak percaya lagi kepada berita yang kita siarkan maka mereka tidak akan menoleh lagi kepada stasiun kita.

4. Jeopardy (berpengetahuan luas dan serba tahu)
Jeopardy merupakan game televisi yang populer di Amerika Serikat soal quiz berbagai topik seperti sejarah, seni budaya, sains, olahraga dan geografi. Bayangkan Anda menjadi salah satu kontestannya yang akan menghadapi pertanyaan dengan berbagai topik. Kita bukanlah ahli namun kita harus tahu banyak. Produser biasa disebut tahu “satu mil lebar dan satu inci dalamnya” mengenai sesuatu informasi.

Lalu bagaimana memperoleh pengetahuan yang luas ini. Resepnya: membaca, membaca dan membaca. Bacalah semua jenis majalah, buku, surat kabar dan situs internet. Membaca setiap hari akan membuat kita berwawasan mengenai isu-isu dalam berita hangat masa kini. ***

Sumber: Power Producer by Dow Smith(2002)

Posted in Archive, Jurnalisme, Jurnalistik | Leave a comment

New Paradigm of news reporting

Under the traditional paradigm of news reporting, journalists should:

1. Seek external discoverable truth or, if there is no clear single truth, present two opposing
sides of the story;
2. Use sources with recognized expertise or authority;
3. Present that material objectively;
4. For consumption by a general mass audience;
5. Through one-way communication.

The new paradigm of journalism, in contrast, looks like this:
1. Notice issue and events;
2. Use own reporting as well as open sourcing;
3. Filter that through journalistic perspective;
4. For consumption by targeted audiences;
5. Who then provide feedback.

Posted in Archive, Blog, Jurnalisme, Jurnalistik | Leave a comment

Menyimak era Kartini jaman kini

Kaum perempuan di Indonesia sudah sangat maju. Dia bisa berperan dalam bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dia juga bisa menjadi pebisnis besar dan memimpin perusahaan negara. Dia juga aktif dalam bidang seni budaya dan pendidikan. Banyak sudah kaum perempuan berkiprah.

Lalu apa yang diharapkan Kartini era kini? Dia bukan untuk berkompetisi dengan kaum pria. Dia seharusnya bermitra dengan kaum pria dalam membangun negeri ini menuju kegemilangannya. Negeri yang memerlukan kepemimpinan besar di bidang moral dan integritas.

Selamat Hari Kartini !

Posted in Archive, Blog | Leave a comment

Nazaruddin’s Tale

Seorang yang menjabat Sekretaris Jenderal Partai Demokrat yang berkuasa telah divonis 4 tahun 10 bulan penjara karena korupsi. Dia didakwa menerima Rp 4,6 miliar dollar dalam pembangunan wisma atlet. Kisah M Nazaruddin memang spektakuler untuk ukuran seorang terdakwa yang diproses Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bayangkan saja ketika dia dinyatakan tersangka mau dicegah sudah kabur dari Singapura. Selama berbulan-bulan dia kabur menghindari kejaran KPK. Dia pernah muncul dalam wawancara audio dan video televisi untuk menunjukkan bahwa dirinya korban dari persekongkolan dan ada orang-orang berkuasa yang dituduhnya juga terlibat permainan uang pembangunan wisma atlet.

Setelah tertangkap bulan Agustus 2011 di Carthagena, Kolombia, Amerika Latin – daerah yang sangat jauh dan mustahil terlacak kalau menurut logika – akhirnya di ringkus polisi setempat. Dengan pengawalan ketat dia terbangkan ke Indonesia dengan pesawat sewaan yang mengeluarkan dana bermilyar rupiah.

Inilah kisah perjalanan Nazaruddin yang berakhir di pengadilan tindak pidana korupsi di Jakarta 20 April saat hakim memvonisnya 5 tahun 10 bulan penjara dan denda. Namun dia juga harus menghadapi dakwaan lain seperti pencucian uang. Dia juga masih merasa diperlakukan tidak adil sehingga sejumlah nama bekas koleganya di partai disebut. Sebagian sudah terjerat dan sebagian masih bebas.

Korupsi memang telah merusak Indonesia. Sampai level seorang petinggi partai berkuasa korupsi milyaran rupiah dilakukan. Kalau direnungkan lebih jauh betapa keroposnya pondasi negeri kalau elit seperti dia melakukan tindakan permainan uang ilegal bahkan sekarang isterinya pun dikejar aparat pembasmi korupsi. Kini saatnya memang bertindak keras sebenarnya kepada terdakwa korupsi karena akan mencegah oknum lainnya bergelimang harga negeri yang dililit utang ini.

Kini episode baru masih menunggu. Akankah M Nazaruddin meneruskan proses pengadilan berikutny ? Apa reaksi dia ketika koleganya juga sedang diproses? Apa teriakan dia ketika bekas koleganya masih bebas? Lalu bagaimana juga episode pengejaran isteri M Nazaruddin yang kemudian juga akan dihadapkan ke pengadilan. Masih panjang tampaknya episode akrobat kaum koruptor Indonesia ini. ***

Posted in Archive, Blog | Tagged , | Leave a comment

Kualitas Power Producer

Produser yang handal atau Power Producer setidaknya memiliki lima karakter:

1. Presence (Kehadirannya dirasakan)
Seorang produser yang handal kehadirannya diketahui oleh orang-orang sekelilingnya. Ketika mereka mengatakan sesuatu atau mengambil keputusan orang-orang di sekelilingnya mendengarkan dan merespon. Bahkan produser lain meminta masukannya. Produser handal dihormati dan diperhatikan oleh timnya di newsroom. Kehadirannya tidak hanya karena busananya namun dihormati karena kemampuannya dan caranya bekerja sama. Kita bisa menjadi diri kita dirasakan kehadirannya dengan cara kita bekerja sama, adil, terbuka dan jujur. Berkomunikasilah dengan jelas, buatlah keputusan yang tepat dan bekerjalah dengan tenang.

2. Command (Mampu memberi komando)
Produser handal saat dia berbicara, timnya bergerak untuk bertindak. Ini disebabkan produser handal dihormati. Jika kita bertindak benar dan mendapatkan dukungan tim maka mereka akan melakukan yang kita minta. Namun kita akan kehilangan kepercayaan jika kita meminta sesuatu yang buruk dan tidak etis.

3. Organization
Seorang produser pemula mengakui memerlukan sebuah organisasi namun produser handal menguasai organisasi dan bahkan melangkah dalam proses produksi harian dengan mudah. Mereka mampu mengatur waktu serta menghadapi tugas dengan segera tanpa keluh-kesah.

4. Passion (Peduli dan semangat)
Produser yang handal memiliki kepedulian dengan berita. Dedikasi mereka untuk berita selalu terlihat. Kita bisa melihat semangatnya dalam mengajukan gagasan berita dan pengetahuannya mengenai peristiwa yang terjadi. Selain itu tampak keputusan mereka terlihat saat menyusun rundown. Mereka hadir tanpa dipanggil bila muncul peristiwa besar. Mereka ingin menjadi bagian dari peristiwa yang akan ditayangkan dan berkeinginan dengan segala cara membantu newsroom.

5. Decisiveness (Keputusan tegas)
Produser handal membuat berbagai keputusan dan mereka tidak ragu. Mereka paham bahwa arah dan tujuan yang jelas penting baginya dari sekedar kesempurnaan dalam penyusunan rundown. Mereka merasa lebih baik mengambil satu keputusan daripada menangguhkannya. Jika seorang produser hanya menunggu konfirmasi dalam penyusunan naskah di rundown maka akan muncul keraguan. Seorang produser handal mengambil keputusan cepat untuk programnya.

Sumber: Power Producer by Dow Smith (2002)

Posted in Archive, Jurnalisme, Jurnalistik | Leave a comment

Tujuh Peran A Power Producer

Produser yang handal (power producer) memiliki beberapa karakter yang sama karena mereka menyadari tuntutan produksi televisi berita. Produksi televisi berkaitan dengan peran berbeda dalam menciptakan dan menjalankan program berita. Setiap tugas produser terkait dengan satu dari tujuh peran dasar produser.

1. Jurnalis
Produser handal adalah jurnalis dan reporter andalan. Mereka memiliki dorongan profesional untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai dunia kepada audiens. Produser di tingkat ini seperti reporter memiliki kontak dengan nara sumber berita dan berbagai komunitas. Sebagai seorang jurnalis produser handal mempersembahkan laporan yang akurat, adil dan berimbang. Mereka memperlihatkan peran ini dalam rundown dan laporan yang mendalam.

2. Penulis naskah berita
Produser handal merupakan penulis naskah berita yang mumpuni. Mereka menulis untuk didengarkan oleh telinga dan memahami penyelarasannya dengan video, suara dan kata-kata untuk merangkai laporan.

3. Ahli dalam produksi
Produser handal menguasai mekanisme dan pertunjukkan televisi. Apa ciri-cirinya? Mereka memeriksa rundown dan menyadari dalam naskah berita di dalamnya ada yang luput, mengetahui berapa lama proses editing video dan mampu bagaimana mengendalikan proses produksi yang kompleks. Jika kita tidak terbiasa dengan teknis produksi akan sulit menjadi produser yang handal.

4. Penulis bidang promosi
Menulis naskah yang membuat pemirsa terpana dan membuat mereka tetap menonton sampai selesai merupakan bagian yang perlu diketahui dalam bidang promosi. Produser handal mengetahui pentingnya membujuk penonton dan bagaimana tugas harian ini terkait dengan bagian promosi dan marketing. Namun mereka juga tahu bahwa promosi yang baik adalah akurat secara jurnalistik dan tidak menyesatkan audiens.

5. Pemimpin sebuah tim
Meskipun memimpin sebuah tim bukan bagian dari deskripsi pekerjaan, kepemimpinan penting untuk mengembangkan seorang produser handal. Seorang produser yang handal memimpin sebuah tim. Dia menyatukan puluhan orang dari berbagai departemen untuk menayangkan sebuah program. Produser handal mampu memanfaatkan sisi terbaik bidang lain untuk timnya. Ini berarti bekerja sama dengan sikap saling menghargai dan menciptakan lingkungan yang positif.

6. Peneliti
Bagaimana kita berkomunikasi dengan audiens jika kita tidak memahami bagaimana mereka hidup dan apa yang mereka harapkan dari berita televisi? Agar berhasil menyajikan berita yang dibutuhkan audiens kita harus memiliki bayangan secara akurat tentang pemirsa kita. Ini sesuatu yang tidak mudah namun kita perlu untuk melakukan kajian soal audiens kita.

7. Tahu hukum dan etika
Seorang produser yang handal memiliki pengetahuan berita mana yang dapat menimbulkan masalah hukum dan berita apa yang dapat menimbulkan masalah etika yang bisa mempermalukan stasiun televisi kita dan merusak kredibilitasnya.

Sumber: Power Producer by Dow Smith (2002)

Posted in Archive, Jurnalisme, Jurnalistik | Leave a comment

Cameron: Indonesia mampu memimpin dunia

Sedikitnya lima kali PM Inggris David Cameron mengatakan: Indonesia mampu memimpin dunia dalam bahasa Indonesia !

Mungkin sebagian sudah membaca pernyataan yang kemudian mendapatkan tepukan meriah dari hadirin yang hadir.

Ungkapan Indonesia mampu memimpin dunia merupakan pendorong semangat sekaligus sindiran.

Indonesia mampu memimpin dunia jika demokrasi dijalankan dengan benar. Indonesia mampu memimpin dunia jika korupsi diberantas.
Indonesia mampu memimpin dunia jika para pemimpinnya adil.

Namun sayangnya semua ini barulah impian. Kenyataannya demokrasi masih soal pergulatan elit mempertahankan kekuasaan. Korupsi masih berurat akar dari bawah sampai atas. Para pemimpin hanya memikirkan diri, dia tidak bertindak adil.

Posted in Archive, Blog | Leave a comment

PM David Cameron di Jakarta

PM Inggris David Cameron tiba di Jakarta hari Rabu (11/4) sekitar 12.30 di Bandara Halim Perdana Kusumah. Inilah kunjungan pertama sejak 2006 seorang perdana menteri Inggris sesudah Tony Blair. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Kini Inggris melirik Indonesia sebagai negara yang akan berpotensi meningkatkan pendapatannya. Produk teknologi Inggris bisa menjadi salah satu daya tarik Indonesia.

Inggris dengan produk budaya dan teknologinya memang menarik. Tidak hanya produk fiksi seperti Harry Potter yang kemudian mengglobal selama hampir sepuluh tahun, Inggris juga dikenal dengan tokoh komedi Mr Bean. Belum lagi dengan grup band legendaris seperti The Beatles.

Dan yang tidak bisa dilupakan masyarakat Indonesia tentu adalah Liga Inggris. Sebuah laga sepakbola bermutu yang senantiasa dinikmati penonton Indonesia setiap akhir pekan. Tidak seperti liga negara lainnya, Premiership menawarkan pesona bintang dan ketatnya persaingan sebagai salah satu ciri liga utama Inggris.

Selain bermotif kepentingan bisnis, salah satu yang menarik disimak dan sangat simbolis adalah kunjungan Cameron di Taman Makam Pahlawan Kalibata begitu mendarat di Jakarta. Bagi sebagian warga Indonesia mungkin dianggap biasa.

Namun coba kita simak lagi. Bayangkan seorang pemimpin negara maju begitu mendarat di Jakarta tidak langsung ke istana tetapi mengunjungi makam pahlawan Indonesia. Kemudian dia memeberikan penghormatan kepada pahlawan yang tidak dia kenal.

Itulah tradisi Inggris yang lekat dengan penghormatan kepada pahlawan. Setiap tahun penhargaan kepada legiun veteran perang di Inggris sangat lah luar biasa. Tidak hanya berupa acara pengumpulan dana bagi mereka yang pernah menjadi tentara Inggris sejak Perang Dunia I namun juga berbagai penghormatan dari rakyat kecil sampai Ratu Inggris. Itulah negeri yang menaruh dan mencatat jasa pahlawannya sampai di abad ke-21 ini.

Itulah tradisi Inggris yang kemudian dibawa dalam kunjungan ke Indonesia. Bukankah di Kalibata adalah pahlawan Indonesia ? Lalu apa kepentingan Cameron datang ke makam ini? Itulah simbolisme dimana pemimpin Inggris seperti mengajarkan bahwa kemajuan sekarang, eksistensi kita tidak lain karena jasa-jasa para pendahulu. Itulah sebenarnya yang muncul dari simbolisme Cameron ke Kalibata.

Apakah bisa tertangkap oleh orang Indonesia? Mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Asal tahu saja, Inggris yang sudah modern ini dan kapitalis orang menyebutnya, menaruh perhatian besar terhadap para pendahulunya. Bahkan di depan gedung pusat pemerintahan Inggris yang disebut Whitehall, berdiri tugu pahlawan yang selalu diangkat menjadi tema sentral hari pahlawan Inggris. Di tugu yang terletak di tengah jalan tak jauh dari Big Ben inilah, nama-nama pahlawan Perang Dunia I dituliskan, di sini pula Ratu Inggris hadir dalam upacara penghormatan kepada mereka.

Jadi pahlawan yang sudah dikubur itu bagi Cameron memiliki pesan magis untuk nasib kita sekarang. Itu pula pesan yang ingin dibawa PM Inggris ini bahwa selayaknya kita tidak melupakan mereka yang telah gugur untuk bangsanya. ***

Posted in Archive, Blog, London | Leave a comment

Hubungan Internasional Abad ke-21: Pengantar Studi

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan
Hubungan internasional abad ke-20 ditandai dengan polarisasi dunia menjadi dua kutub raksasa yakni Blok Barat dan Timur. Blok Barat merupakan aktualisasi ajaran liberalisme dan kapitalisme. Setelah Perang Dunia II, Blok Barat dipimpin Amerika Serikat yang menghendaki ajaran komunis yang dibawa Blok Timur tidak menguasai dunia. Kemudian muncullah model bipolar dengan kelahiran konsep balance of power (perimbangan kekuatan).
Penemuan Bom Atom di akhir Perang Dunia II dan penggunaannya oleh Amerika Serikat telah mendorong Blok Timur yang kemudian dipimpin Uni Soviet berusaha mendapatkan teknologi tersebut. Tahun 1945, Amerika Serikat memiliki supremasi dalam bidang senjata strategis. Namun sejak 1949, Uni Soviet telah membuktikan keunggulannya dengan memiliki senjata nuklir seperti halnya Amerika Serikat. Maka lahirlah suasana Perang Dingin dimana persaingan ideologi antara AS dan Soviet menghindari bentrokan langsung karena risiko perang nuklir.
Menurut Juwono Sudarsono, tahun 1989-1990, Perang Dingin berakhir dengan runtuhnya tembok Berlin pada 9 November 1989 serta menyatunya Jerman Barat dan Timur pada 3 Oktober 1990. Perkembangan itu disusul dengan bubarnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991 bersamaan dengan mundurnya Mikhail Gorbachev sebagai kepala negara.
Pasca Perang Dingin disebutkan Juwono telah melahirkan sedikitnya empat hal penting dalam hubungan internasional. Pertama, hubungan internasional ditandai dengan ikhtiar memelihara persatuan dan kesatuan bangsa menghadapi lingkungan internasional yang lebih kabur, lebih tidak menentu dan lebih mengandung kompetisi meraih akses pada ilmu, modal dan pasar di negara-negara kaya.
Kedua, soal yang berkaitan dengan keamanan regional. Tiadanya negara adidaya yang memasok kekuatan militer telah menimbulkan persaingan baru diantara negara anggota kawasan tertentu. Ketiga, perhatian kepada ekonomi politik internasional menjadi penting sesudah Sistem Bretton Wood runtuh tahun 1971-1972 yang semula jaminan emas menjadi pilar ekonomi dunia sejak akhir Perang Dunia II.Pada saat bersamaan Jerman dan Jepang menjadi kekuatan baru dalam bidang ekonomi yang menandingi AS. Keempat, dalam hubungan internasional muncul pokok masalah baru yakni “3-in1” berupa lingkungan hidup, hak asasi manusia dan demokratisasi. Ditambah pula dampak globalisasi ekonomi.
Memasuki milenium ke-3 ini dunia menyaksikan corak hubungan antar bangsa yang juga baru. Pada bab ini akan ditelusuri corak hubungan internasional bagaimana yang akan muncul pada awal abad ke-21 nanti. Untuk mengetahuinya tidak hanya mengandalkan pandangan pakar hubungan internasional tetapi juga perlu melihat kajian sejumlah pakar bisnis yang akibat globalisasi ekonomi penilaiannya menjadi sangat berharga.

Revolusi Dunia
Sebelum melihat bagaimana corak hubungan internasional abad ke-21, ada baiknya melihat terlebih dahulu sedikitnya tiga revolusi yang berlangsung pada penghujung abad ke-20.
Pertama, revolusi geostrategis. Dalam sebuah laporan berjudul Strategic Assessment 1997 yang diterbitkan Institute for National Strategic Studies (INSS) Amerika Serikat menyebutkan di dunia ini telah terjadi perubahan-perubahan strategis. Di antaranya, pola Perang Dingin sedang digantikan oleh hubungan multiporal asimetris di mana AS sebagai negara paling kuat yang mengendalikan jaringan internasional. Meskipun demikian kekuatan negara lain penting karena berpengaruh di masing-masing kawasan.
Salah satu perkembangan menarik dari perubahan geostrategis global seperti diuraikan dalam laporan tersebut adalah kemenangan gagasan demokrasi dan ekonomi pasar (democracy market). AS melihat bahwa gagasan itu diterima di mana pun di dunia, kecuali di Cina, sebagai cara terbaik dalam memimpin masyarakat.
Oleh sebab itulah maka INSS membagi tiba kategori negara. Pertama, negara sukses melaksanakan tujuan demokrasi pasar. Kedua, negara yang sedang dalam transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi pasar namun berisiko membeku dengan ekonomi politik dan sebagian sistem politik bebas. Ketiga, negara-negara bermasalah yang tertinggal dari negara lainnya dan bahkan banyak berjuang untuk keluar dari ekstremisne etnik dan religius dan mungkin krisis separatisme.
Charles Kegley menyebutkan, antara 1974 sampai 1991, sepertiga negara yang ada di muka bumi mengubah sistem politiknya menjadi demokrasi. Sebuah organisasi yang memonitor kemajuan ke arah demokrasi, Freedom House, memperkirakan pada tahun 1992, sebanyak 41 persen manusia yang hidup di dunia tinggal di negara-negara bebas, 37 persen hidup di negara setengah bebas dan 22 persen berada di negara yang tidak bebas.
Huntington menyebutkan bahwa fenomena meluasnya ajaran demokrasi itu sebagai sebuah gelombang ketiga demokratisasi. Oleh karena itu, Francis Fukuyama menyatakan ajaran demokrasi liberal Barat telah menjadi universal dan bentuk terakhir pemerintahan yang bisa diterima manusia.
Patut dicatat pula fenomena baru dari kemitraan strategis antara AS dan Cina serta Cina dan Rusia. Kemitraan ini secara langsung telah mengeluarkan Cina dari isolasionisme dunia menjadi lebih terbuka terhadap respons dunia. Bahkan muncul pendapat, dengan kemitraan itu Cina takkan lagi berubah menjadi ekstrem karena tidak merasa frustrasi dengan apa yang dinamakan oleh AS sebagai politik pembendungan Cina.
Kedua, Revolusi teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi memang sudah dirasakan sebagian besar lapisan masyarakat di planet bumi ini. Komputer, faksimile, kabel optik fiber, internet, telepon genggam, siaran televisi yang global serta satelit telah mempercepat aliran informasi menembus batas-batas negara tanpa bisa dihentikan. Oleh karena itulah revolusi ini mempercepat penyebaran gagasan-gagasan politik yang semakin membuka mata masyarakat. Sejauh ini sulit diramalkan akan ke mana arah revolusi bidang teknologi ini.
Ketiga, revolusi dalam pemerintahan. Berbeda dengan lima dekade lalu, wilayah kontrol negara kini sedang menyusut. Di banyak negara maju, kekuasaan dialihkan ke pemerintahan regional atau lokal. Bahkan ada pula yang diserahkan ke sektor swasta, terutama dalam penguasaan sumber daya alam, dana dan manusia. Fenomena ini telah memperkuat kecenderungan menuju masyarakat pluralis.
Berkurangnya kekuasaan pemerintah ini terlihat seperti di Rusia, AS, Uni Eropa dan mungkin Cina. Pemerintah pusat cenderung memindahkan lebih banyak otoritasnya ke pemerintah lokal atau regional. Berkurangnya fungsi pemerintahan pusat ini antara lain karena berkurangnya anggaran dan mungkin pula karena krisis anggaran di banyak negara. Tidak mengherankan jika banyak terjadi swastanisasi perusahaan negara seperti di Rusia dan Cina. Alasannya, meningkatkan efektifitas dan efisensi sehingga bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Kekuatan bisnis internasional juga telah meningkatkan kekuatannya dalam berhadapan dengan pemerintahan. Namun demikian tentu saja dalam saat-saat tertentu seperti selama perang, kemampuan pemerintah memobilisasi berbagai sumber untuk mendukung kepentingan nasionalnya masih bisa diandalkan.
Menurut sebuah analisis telah terjadi tiga perubahan cepat dalam dekade ini dan hal ini sepertinya banyak menguntungkan negara adidaya seperti AS. Dalam skema hubungan antarkekuatan besar terlihat AS masih berada di poros, tidak seperti pada Perang Dingin dengan dua poros. Salah satu kecenderungan yang muncul adalah, AS akan senantiasa mempertahankan kekuatannya dengan jalan apa pun meski tentu mengorbankan sekutunya.

Pandangan baru
Tidak hanya karena revolusi teknologi komunikasi, tetapi juga karena dalam tataran ideologis sudah relatif tidak ada pertentangan yang menajam dan mendunia. Dari segi isu-isu internasional jelas sudah ada pergeseran berarti dari bidang ideologis yang termanifestasikan dari persaingan militer dan aliansi menjadi bernada ekonomi-politik. Tema-tema seperti hak asasi manusia, demokratisasi, keterbukaan politik dan lingkungan menjadi vokal pada saat ini. Diperkirakan pada awal abad ke-21, justru isu-isu ini akan semakin menguat.
Bentuk aliansi juga mengalami perubahan berarti dari aliansi yang bersifat politik-militer menjadi aliansi atau persekutuan atau perhimpunan yang menekankan kerja sama ekonomi. Jika meminjam teori new institutionalism maka aspek kerja sama menjadi fokus untuk menggantikan aspek persaingan atau permusuhan. Memang teoritisi realis masih hidup dalam percaturan internasional namun gemanya tidak sehebat ketika Perang Dingin lahir dan berkembang sampai tumbangnya Uni Soviet tahun 1991.
Seorang pakar hubungan internasional, Gaddis bahkan pernah mengherankan mengapa teori-teori hubungan internasional yang ada sekarang tak bisa meramalkah berakhirnya Perang Dingin. Perdebatan teori itu kemudian bergeser pada semacam apologia bahwa memang tidak semua teori bertugas meramalkan kejadian internasional.
Apapun alasan dan argumentasinya, jelas bahwa teori hubungan internasional mengalami perubahan format. Realisme telah melahirkan neorealisme. Perkembangan ini saja telah memberikan semacam alasan bahwa memang revisi terhadap pemahaman hubungan internasional memerlukan revisi besar-besaran dan mengakar.
Kehadiran teori itu juga seperti membuktikan bahwa aneka ragam teori hubungan internasional meskipun lahir di tangan seorang atau sekelompok pakar Hubungan Internasional berpengalaman dari perguruan prestisius masih saja memiliki kelemahan. Ini bukan berarti mengecilkan perkembangan teori yang ada namun bahwa aspek hubungan internasional pada milenium baru itu berbeda bahkan tidak mustahil berbeda sama sekali dengan apa yang terlihat pada abad ke-20
Untuk mengetahui bagaimana pola hubungan internasional abad ke-21, sejumlah pakar menguraikan versi masing-masing. Lester Thurow menyebutkan adanya lima kekuatan dunia. “Saya menyebutnya piringan ekonomi yang didasarkan pada konsep geologi dimana gempa bumi dan ledakan gunung berapi disebabkan oleh gerakan piringan raksasa benua yang disebut piringan tektonik yang mengambang di inti bumi. Menurut dia, lima piringan tektonik ekonomi ini akan mendorong semua perubahan dan secara fundamental menciptakan kembali permukaan ekonomi bumi.
Piringan pertama adalah berakhirnya komunisme. Thurow berpendapat, sepertiga manusia hidup di dunia komunis. Mereka akan bergabung kedalam dunia kapitalis.
Kedua, Thurow melihat adanya gerakan dari industri berbasiskan sumber daya alam menuju industri berbasiskan otak manusia. Industri ini akan melahirkan lingkungan yang baru.
Kekuatan ketiga adalah tentang tiga hal yang sedang berjalan dalam masalah demografi. Ia menilai, penduduk dunia tumbuh, bergerak dan juga semakin tua. Mulai 2025 di negara-negara industri, mayoritas penduduknya berusia di atas 65 tahun. Hal ini juga akan mengubah sosiologi, psikologi, bisnis, anggaran pemerintah.
Pada saat yang sama, masyarakat nanti akan menjadi yang pertama dalam sejarah kemanusiaan yang benar-benar menjadi kekuatan ekonomi global sejati. Masyarakat nanti bisa memproduksi apa saja dimana saja di muka bumi dan menjualnya dimana saja di muka bumi. Inilah yang disebut Thurow sebagai piringan tektonik keempat.
Sedangkan kekuatan kelima dan terakhir seperti diungkapkan Thurow adalah untuk pertama kali dalam 200 tahun umat manusia takkan memiliki dunia unipolar dengan satu kekuatan ekonomi, politik atau militer yang dominan seperti hal yang terjadi pada abad ke-19 dengan Inggris dan pada abad ke-20 dengan kekuatan Amerika Serikat.

Masa depan ideologi
Seperti halnya pada abad ke-20, ideologi dalam hubungan antar bangsa masih menjadi salah satu unsur penting. Persoalan yang dihadapai nanti adalah apa yang jadi ideologi masa depan. Huntington membicarakan soal Clash of Civilisation antara Barat versus Islam atau Konfusius. Graham Fuller dalam artikelnya The Next Ideology menegaskan, ideologi-ideologi masa depan yang datang dari Dunia Ketiga akan menjadi penantang Barat. Ia menilai, bentuk ideologi mendatang merupakan gabungan dari nilai dan lembaganya.
Munculnya ideologi baru itu merupakan konsekuensi dari keadaan vakum yang diakibatkan pupusnya pengaruh gaya Marxisme-Leninisme di Uni Soviet. Untuk memahami bagaimana ideologi masa depan ini, ia merumuskannya dalam nilai-nilai yang muncul dari ideologi Barat.
Kedua adalah keyakinan bahwa nilai etik dan politik demokrasi. Ia menyebutkan, kandidat yang berperan potensial dari Dunia Ketiga untuk tampil adalah Indonesia, Aljazair, Brasil dan Afrika Selatan. Dalam era masa datang, AS akan menghadapi tiga konvergensi.
Pertama, pada era masa depan, Barat yang dominan akan memasuki masa pengkajian ulang tentang cara mengimplementasikan nilai-nilai filosofisnya, proses penyaringan cita-cita yang sekarang berlaku tidaklah cukup. Tatanan lama tradisi Barat bukanlah model yang perlu diperjualbelikan ke seluruh dunia.
Kedua, Dunia Ketiga akan berkembang terus secara beraneka ragam dengan berbagai negara meraih tahap baru “modernisasi” di berbagai waktu. Mereka yang membuat secara ekonomi seperti Barat mungkin akan menyesuaikan pandangannya sederajat pada pertama kalinya.
Ketiga, sepertiga negara Dunia Ketiga takkan seperti itu dan akan membutuhkan bantuan dan dukungan untuk menghindari terseret kedalam tatanan dunia dalam konfrontasi antara tatanan Barat dan non-Barat.

Corak Asia
John Naisbitt telah memberikan indikasi bahwa abad ke-21 tidak bisa lepas dari pengaruh Asia. Krisis moneter yang menimpa Asia sejak 1997 telah menimbulkan keraguan akan kemampuan Asia memainkan peran dalam ekonomi dan politik dunia. Namun tahun 1999 dapat disaksikan betapa cepatnya pemulihan yang dialami Korea Selatan, Thailand dan Malaysia. Indonesia memang tertinggal dalam pemulihan tersebut karena adanya krisis politik yang berlangsung secara bersamaan dengan krisis politik.
Menurut Naisbitt, saat ini sedang disaksikan semacam kesadaran Asia. Ia menyebutnya sebagai perasaan sebenarnya dari Asia sehingga disebutnya sebagai Asianisasi Asia. Naisbitt memberikan contoh bagaimana pada tahun 1960-an seorang warga Inggris, Jerman dan Perancis menyebut dirinya sebagai orang Eropa. Kini sudah muncul kesadaran dari berbagai warga negara di Asia menyebut dirinya sebagai orang Asia. Ini mengindikasikan betapa kuatnya perasaan Asia diantara berbagai negara yang berbeda. Ia menilainya akan memberikan kekuatan pada abad ke-21.
Dalam karyanya, Megatrends in Asia, Naisbitt menyebutkan ada delapan trend yang terjadi di Asia pada akhir abad ke-20. Pertama, peralihan dari negara bangsa kedalam bentuk jaringan. Ini berkaitan dengan peralihan Asia yang didominasi Jepang menjadi kawasan yang didominasi jaringan Cina yang jumlahnya mencapai 57 juta jiwa. Etnik Cina ini hidup di luar jumlah yang mencapai 1,2 milyar di RRC.
Kecenderungan kedua, peralihan dari ekonomi yang dipicu ekspor menjadi ekonomi yang dipacu konsumer. Pertumbuhan ekonomi yang dirangsang oleh ekspor yang berlangsung selama ini telah memunculkan standar hidup masyarakat asal ekspor. Masyarakat inilah yang kemudian menuntut kebutuhan baru bidang manufaktur yang kemudian mendorong industri.
Ketiga, Naisbitt menyebutkan sebagai peralihan dari pengaruh Barat kepada cara Asia. Tradisi Asia telah menjadi kebutuhan sesudah kemajuan ekonomi mewarnai Asia. Kemudian muncul kebutuhan akan pemerintahan, bisnis dan pendidikan yang bergaya Asia karena lebih menempatkan tradisi masing-masing secara lebih terhormat.
Keempat, di Asia juga muncul kecenderungan apa yang disebut sebagai peralihan dari kontrol pemerintah menjadi kontrol pasar. Dinamika ekonomi yang diperkenalkan dalam beberapa dekade ini telah menempatkan pasar sebagai pengendali pertumbuhan bukannya pemerintah. Itulah sebabnya maka pasar memicu kebutuhan dan pengawasan baru terhadap ekonomi.
Kelima, seiring dengan perjalanan industrialisasi, kota-kota kecil dan pedesaan berubah menjadi wilayah urban yang besar. Kota-kota metropolitan, bahkan megapolitan lahir dari proses pembangunan ekonomi. Terdapat perubahan dari pertanian yang padat tenaga kerja menjadi sektor manufaktur dan jasa.
Trend keenam yang disebutkan Naisbitt adalah perpindahan dari pekerjaan yang padat tenaga kerja menjadi padat teknologi. Banyak negara di Asia telah menguasai teknologi tinggi yang memproduksi produk padat ilmu. Bidang pekerjaan yang padat tenaga kerja telah digantikan dengan pekerjaan yang menuntut pengetahuan tinggi.
John Naisbitt juga memperhitungkan kecenderungan ke tujuh yakni peralihan dari dominasi pria dalam pekerjaan dengan munculnya kaum perempuan di berbagai sektor. Di Indonesia sendiri jumlah warga negara perempuan lebih banyak daripada pria. Lagipula banyak kaum perempuan yang belajar sampai pendidikan tinggi sehingga akses kepada bidang kerja dengan keterampilan khusus bisa diraihnya.
Trend terakhir, adanya peralihan dari Barat ke Asia dimana Asia diproyeksikan akan menjadi pusat dunia menggantikan Eropa. Baik dari segi jumlah penduduk maupun pertumbuhan ekonomi dalam dekade terakhir abad ke-20, Asia tidak disamai oleh Eropa sekalipun. Abad ke-21 akan menjadi kawasan dominan, tulis Naisbitt.

Penutup
Karakter hubungan internasional abad ke-21 akan ditandai dengan peralihan pertentangan ideologi menjadi persaingan ekonomi dan politik. Ideologi baru akan muncul menggantikan ideologi tradisional Marxisme dan Kapitalisme.
Selain itu akan muncul sebuah hubungan antar bangsa dimana Asia kemungkinan memainkan peran dalam ekonomi, politik dan budaya. Kecenderungan yang muncul di Asia meski sempat terhenti karena krisis ekonomi akan melahirkan dominasi Asia menggantikan dominasi Barat setidaknya di kawasan ini. Hasilnya, negara-negara Asia memiliki posisi penting dalam percaturan politik dan ekonomi dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarsono, Juwono dkk. Perkembangan Studi Hubungan Internasional. Jakarta:Pustaka Jaya, 1996
Masoed, Mochtar. Ilmu Hubungan Internasional,. Jakarta: LP3ES, 1994.
Groom, AJR.Contemporary International Relations: A Guide to Theory. London: Pinter, 1994.
Dougherty, James E and Robert L Pfaltzgraff Jr,.Contending Theories of International Relations.
Philadelphia:JB Lippincot Company, 1971.
Viotti, Paul R and Mark V Kauppi. International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism.
London, MacMillan Publishing Company, 1993.
Kegley, Charles et.al., World Politics. New York, St. Martin’s Press, 1993.

Posted in Archive, Blog, Hubungan Internasional | Leave a comment