Banyak pertanyaan seputar bagaimana memasuki dunia jurnalistik ketika sebuah lowongan untuk profesi wartawan dipasang di sebuah media massa. Bagaimana caranya ? Apa saja yang harus dipersiapkan? Latar belakang pendidikan apa yang diperlukan? Saya telah mencoba melamar sebagai wartawan tapi mengapa gagal ? Saya baru lulus bisakah masuk ke dunia jurnalistik. Lalu mau melamar bagaimana caranya ?
Pertanyaan serupa pernah muncul dalam benak penulis sebelum memasuki dunia jurnalistik tahun 1988.
Salah satu tip untuk memasuki dunia jurnalistik adalah kesiapan dari dalam diri kita . Apakah kita benar-benar senang melihat bagaimana kesibukan para wartawan, presenter televisi atau radio dan berbagai tokoh jurnalistik berbicara soal media ? Jika ya, maka teruskan pada tahap berikutnya.
Mengapa minat menggebu ini penting ? Karena dengan modal inilah semua kesulitan bisa diselesaikan. Minat yang tinggi tinggal digabung dengan skills, misalnya menyusun daftar riwayat hidup atau cv dan teknik wawancara.
Jika minat sudah ada, maka mulailah bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis, banyak membuat analisa dan membuat opini di media massa di kota Anda. Identifikasi minat Anda. Bila bermimat di dunia sastra, mulailah dengan menulis puisi, prosa atau cerpen. Mulailah sekarang juga apalagi bagi yang akan lulus. Tulisan Anda di sebuah media daerah atau bahkan media nasional akan memperkuat bobot Anda dibandingkan dengan rekan lainnya ketika sama-sama mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan.
Jika tidak bisa dimuat, saran sastrawan Mochtar Lubis, buatlah tulisan setiap hari – sekali lagi setiap hari – di buku harian Anda. Membiasakan memberi komentar dan deskripsi akan memberikan kekuatan dan modal penting dalam liputan di masa datang. Saran Mochtar Lubis – tokoh sastra ini – sangatlah berarti karena begitu Anda memang tombol komputer atau pena, kadang-kadang Anda tidak berani mengungkapkan perasaan, opini atau argumentasi. Anda menjadi pemalu.
Nah bagaimana Anda bisa menulis komentar tentang peristiwa di sekitar Anda mulai dari kasus korupsi, banjur, got mampet, kemarau panjang dan angkot yang tidak disiplin, kalau Anda pemalu. Atau bagaimana bisa berbicara dan berdebat dengan rekan Anda tentang suatu masalah yang lagi menjadi topik pembicaraan umum jika mengidap rasa malu mengungkapkan pendapatnya. Kebiasaan menulis buku harian – tidak selalu tentang romantisme Anda – mengenai topik sosial, nasional dan internasional akan membuat Anda terbiasa dan terbuka dalam mengajuka pendapat. Anda juga bisa terbiasa menuliskan secara runtut dan logis.
Bila sudah selesai, kaji dan baca kembali. Siapa tahu memang dari situ kelihatan bakat Anda dalam menuangkan pendapat dalam sebuah tulisan. Tentu tidak selalu tulisan pertama akan menjadi karya yang terpuji, tetapi Anda telah mengawali langkah untuk memasuki karir di dunia jurnalistik. Minat menulis merupakan anak tangga pertama sebelum memasuki gerbang dunia jurnalistik.
Sekali lagi mulailah menulis. Tulis apa saja, beri komentar apa saja. Lalu perlahan-lahan buatlah ulasan terhadap peristiwa yang menarik minat Anda. Keluarkanlah seluruh pengetahuan dan daya analisa Anda, niscaya ini akan menuntun ke dunia lebih luas dalam tahap awal dunia jurnalistik.
Jangan menyerah jika selama satu hari, Anda tidak menulis apapun karena merasa buntu pikiran. Saat kesulitan seperti itulah yang menentukan apakah Anda menyerah atau terus maju. Jika sedang buntu berhentilah dan carilah ilham dengan berbagai cara seperti jalan-jalan atau mengerjakan sesuatu diluar dunia Anda.
Keputusan
Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?
Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.
Jika Anda memutuskan memasuki dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis umur kita. Putuskan sesegera mungkin dan bertindaklah. Jika ragu, bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.
Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.
Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.
Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.
Menulis dengan perspektif
Langkah berikutnya biasakan menulis dengan satu perspektif. Apa kebiasaan menulis dengan perspektif? Menulis dalam dunia jurnalistik harus memiliki angle, memiliki sudut pandang dan memiliki tekanan. Dunia jurnalistik adalah dunia yang serba cepat berkembang sehingga sangat penting bagi mereka yang memiliki minat terjun ke dunia ini kemampuannya menulisnya serba cepat. Cepat tetapi tentu akurat. Soal akurasi ini kita akan kaji dalam pertemuan lainnya.
Yang disebut menulis dengan perspektif ini adalah menuangkan gagasan dengan satu sudut pandang yang dianggap kuat dan menonjol saat itu. Menliskan laporan dengan sudut pandang sangat penting untuk membuat jiwa dalam tulisan sesuai dengan kebijakan editorial sebuah media. Untuk sampai ke arah sana latihlah tulisan yang memiliki perspekif yang memiliki sudut pandang.
Media massa melaporkan peristiwa dengan tekanan dan sudut pandang tertentu. Dalam bahasa media massa adalah angle (sudut pandang). Angle inilah yang kemudian menggulirkan laporan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan. Editorial media itu sendiri nanti yang akan menguakan sudut pandang dan membedakan angle satu media dengan media lainnya. Angle inilah yang akan jadi ruh sebuah media sehingga pemirsa atau pembaca akan merasakan sudut pandang media itu.
Nah untuk belajar menuliskan sudut pandang ini, kita ambil contoh musibah longsor di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Langkah pertama tentu menulis soal peristiwanya sendiri, berapa korban dan berapa yang hilang. Mengapa korban? Sebab berita adalah menyangkut manusia. Musibah dan bencana adalah drama manusia. Drama tentang kesedihan dan kegembiraan luput dari bencana. Oleh sebab itulah maka tuliskan dalam latihan ini angle korban sebagai sudut pandang. Misalnya: Sedikitnya 20 orang meninggal akibat tanah longsor di Ciwidey, Bandung.
Dari satu kalimat itu dapat berkembang banyak hal yang bisa mengungkap tentang korban ini termasuk jumlah orang yang hilang. Dalam latihan sebelum kita benar-benar menjadi seorang jurnalis, menuliskan peristiwa yang kita lihat dan dengar akan sangat bermanfaat membiasakan diri menulis dalam konteks pemberitaan, pelaporan. Tentu saja latihan sebelum benar-benar menjadi jurnalis ini kita biasakan untuk semua peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan kalau bisa yang lebih dekat dengan keberadaan penulis sehingga lebih berkesan dan mendalam.
Mengapa yang dekat? Karena prinsip proximity (kedekatan) merupakan satu hal penting dalam dunia jurnal (harian) dimana mereka yang terdekat akan sangat ingin tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Naluri manusia berupa rasa penasaran dan ingin tahu inilah yang akan menjadi penting dalam dunia jurnalistik dan mengapa dunia jurnalistik akan tetap hidup. Sepanjang manusia memiliki insting ingin tahu maka dengan sendirinya akan terdorong untuk membaca, mendengar dan melihat dengan panca inderanya segala apa yang terjadi di dekatnya.
Bagi manusia rasa ingin tahu ini juga merupakan bekal untuk mengantisipasi apa yang menimpa mereka. Setidaknya juga menjadi bekal informasi mankala ada keluarga dekat dan jauh terkena bencana sehingga bisa segera menolong atau memberikan perhatian. Oleh sebab itulah maka penting bagi mereka yang berkeinginan terjun ke dunia jurnalistik melaporkan sesuatu dengan cepat dan akurat peristiwa yang paling banyak mempengaruhi manusia.
Jika langkah pertama menulis mengenai peristiwa bencana tadi dimulai dengan angle siapa yang jadi korban dan berapa jumlahnya, maka pada hari berikutnya seorang jurnalis akan melangkah kepada langkah penyelamatan mereka yang masih tertimbun – jika memang ada – atau upaya yang dilakukan tim SAR untuk menyelamatkan korban.
Alasan terjun ke dunia jurnalistik
Mengapa penulis terjun ke jurnalistik? Pertanyaan ini mungkin lebih penting dari persoalan teknis yang dibahas dalam blog mengenai liputan. Wartawan adalah pekerjaan yang aneh.Ketika penulis memasuki karir sebagai wartawan secara sadar melalui harian Kompas tahun 1988, potret karir saat itu mungkin tidaklah begitu cemerlang. Suasana saat itu masih diliputi represi dan tekanan serta sensor rezim Orde Baru.
Mungkin pandangan subyektif akan lebih bermakna kalau alasan ini dikemukakan dengan teori-teori tentang jurnalistik. Alasan ini akan diringkaskan dalam beberapa poin untuk nanti dielaborasi.
1.Pertama, barangkali pribadi penulis terbawa oleh tradisi orang tua sebagai guru di sekolah menengah. Apalagi ibunda seorang guru bahasa Indonesia yang memiliki pengaruh besar terhadap penulis.Bahasa Indonesia ternyata di kemudian hari sangat penting dalam karir di dunia jurnalistik. Salah satu kalimat yang sangat mempengaruhi penulis adalah tulisan Bung Karno dalam buku di Bawah Bendera Revolusi yang mengatakan bahwa kalau guru adalah memberikan pendidikan kepada satu kelas, maka wartawan adalah guru yang memberikan pendidikan kepada masyarakat, kepada bangsa. Kalimat Bung Karno ini sungguh indah dan memberikan pandangan kuat terhadap liputan di lapangan. Ya seorang jurnalis tidak lain adalah guru bagi masyarakatnya, guru di ruang terbuka bukan di kelas yang tertutup. Wartawan adalah bagian dari kalangan intelektual yang memberikan wawasan dan pencerahan kepada masyarakat dengan menemukan berbagai masalah di lapangan dan mengangkatnya sehingga menjadi sebuah topik perdebatan dan menyodorkan sejumlah solusi.
Dia bekerja tidak hanya sekedar membuat berita atau ulasan. Dia bekerja karena sadar sebagai guru yang semestinya memberikan arah kepada kehidupan bangsanya. Kalau hanya sekedar kuli disket atau kuli tinta, maka pekerjaan wartawan adalah membosankan dan melelahkan. Namun terbukti pandangan yang lebih mendalam sebagai bagian dari kalangan intelektual yang terbukti di seluruh dunia akan memberikan tekanan dan penghargaan atas profesi ini.
2. Alasan untuk terjun ke dunia jurnalistik adalah keinginan untuk keliling Indonesia dan kalau perlu dunia atau setidaknya di Asia Tenggara. Keinginan berkunjung ke negara lain merupakan salah satu pendorong untuk masuk ke media. Kita tahu bahwa sejumlah jurnalis yang handal dikirim medianya ke luar negeri untuk mengikuti dan melaporkan berbagai peristiwa. Berkunjung ke berbagai kota di Indonesi apalagi berkunjung ke negara lain merupakan cita-cita yang besar. Sebagian orang mungkin berkunjung ke negara lain atas biaya sendiri, namun biasanya karena tugas liputan ke luar negeri seorang jurnalis jalan-jalan dengan gratis.
Seorang yang berjalan-jalan di Indonesia tentu wawasannya akan lebih luas dibandingkan mereka yang tinggal di satu kota. Jalan-jalan di muka bumi akan membuat kita lebih bijaksana dalam mengkaji sesuatu dan pada saat yang sama mendapatkan informasi dan pengetahuan luas mengenai adat istiadat berbagai suku bangsa di satu negara. Di sisi lain, tugas liputan antar kota juga memberikan perspektif mengenai pembaca atau audiens.
Dapat dibayangkan kalau terjun ke dunia jurnalistik maka kesempatan keliling dunia pun terbuka. Penulis juga dapat mengetahui berbagai adat istiadat di berbagai negara, saya dapat belajar bahasa asing dan juga berkenalan dengan berbagai kalangan di luar negeri. Ini kesempatan yang tidak akan banyak didapat dari jenis karir lainnya. Intensitas untuk kunjungan ke luar negeri pun akan tinggi sejalan dengan semakin baiknya kualitas liputan.
Setelah berkarir cukup lama baik Kompas maupun di BBC, maka jelas semua bayangan ketika akan masuk ke dunia jurnalistik ini sebagian sudah terwujud. Berbagai negara telah dikunjungi dan berbagai kota juga pernah disinggahi. Pengenalan terhadap berbagai bangsa bisa memberikan perspektif baru mengenai apa yang disebut Indonesia di mata internasional. Begitu kita keluar Indonesia kita segera dapat membandingkan seberapa majunya Indonesia dibandingkan negara tetangganya. Kita juga bisa sedikit tahu mengapa mata uang rupiah tidak laku di dunia, mengapa Indonesia tertinggal dibandingkan tetangganya dan bagaimana pula kira-kira kelemahan Indonesia yang harus diobati setidaknya melalui laporan jurnalistik.
3. Alasan ketiga masuk kedalam media antara lain keinginan bertemu dengan berbagai kalangan dalam masyarakat. Seorang wartawan akan bertemu dengan strata sosial paling rendah seperti pemulung atau pengemis dan di titik ekstrem lain akan bertemu dengan raja-raja, presiden atau perdana menteri. Sebuah anugrah bisa bertemu dengan seorang pengamen, pedagang asongan atau pemulung namun bisa menyampaika aspirasi mereka kedalam media. Saat yang sama kita bisa bertemu kalangan terkemuka di dalam masyarakat seperti pejabat tinggi, intelektual dan kalangan profesional lainnya untuk menjadi medium menyampaikan gagasan mereka.
Pertemuan dengan berbagai kalangan akan membuka wawasan lebih luas. Penulis teringat kemudian ketika mendapatkan kesempatan wawancara dengan sejumlah pakar di Indonesia mulai dari Juwono Sudarsono, Lie Tek Tjeng, Alfian, Nurcholis Majid, Frans Magnis Susoeno, Arbi Sanit, Ali Alatas sampai dengan Hasan Wirajuda dalam berbagai kesempatan. Saya merasakan terjadi lompatan besar dalam informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh kalangan intelektual ini. Lompatan keilmuan ini sangatlah berharga dalam penulisan di belakang hari.
Dalam liputan juga bisa mendengarkan bagaimana Raja Norodom Sihanouk berbicara, bagaiman Sheikh Zayed dari Emirat Arab dan bagaimana pula Menteri Luar Negeri Amerika James Baker bahkan bagaimana bisa mendengarkan langsung Presiden Uni Soviet waktu itu Mikhail Gorbachev dalam liputan di Madrid, Spanyol. Atau ketika wawancara mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim serta pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi memberikan perspektif baru tentang kehidupan mereka.
Pertemuan dengan tokoh Indonesia dan Dunia memberikan kesempatan untuk bertukar pandangan dan menyerap karakter mereka yang kuat. Inilah salah satu motivasi mengapa bergerak di dunia jurnalistik akan memperkaya wawasan dan sekaligus berkesempatan duduk bersama dengan penguasa dunia dan juga dengan anggota masyarakat biasa.